أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،
لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ المُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا النََّاسُ، لَقَدْ قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ فِيْ كِتَابِِِهِ الْكَرِيْمِ:
“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian. Adakah
Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kalian dari
langit dan bumi? Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain
dia, maka mengapa kalian berpaling?” (Fathir: 3)
Di dalam ayat tersebut Allah l memerintahkan kepada seluruh manusia
agar mereka mengingat nikmat-nikmat-Nya. Karena yang demikian ini akan
mendorong seseorang untuk bersyukur kepada Allah l.
Kaum muslimin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,
Ketahuilah, bahwa bersyukur kepada Allah l akan menyebabkan
terjaganya nikmat yang dikaruniakan kepada seseorang dan menyebabkan
datangnya nikmat-nikmat Allah l yang lainnya. Namun sebagaimana
diterangkan oleh Al-Imam Ibnu Al-Qayyim t, syukur itu tidak akan
terwujud kecuali jika terbangun di atas lima perkara. Yaitu dengan
merendahkan dirinya kepada Allah l, mencintai-Nya, mengakui bahwa nikmat
tersebut merupakan karunia dari Allah l, memuji Allah l dengan
lisannya, dan tidak menggunakan nikmat tersebut untuk perkara yang
dibenci oleh Allah l. Oleh karena itu, sudah semestinya bagi kita untuk
melihat kembali usaha kita dalam mewujudkan rasa syukurnya kepada Allah
l. Karena apabila salah satu dari lima perkara yang harus dipenuhi
tersebut tidak dilakukan, maka belum dikatakan orang tersebut telah
bersyukur.
Dengan demikian, bersyukur itu tidaklah cukup dengan mengucapkan
alhamdulillah atau dengan sekadar menyadari bahwa nikmat tersebut
datangnya dari Allah l. Bahkan tidak cukup pula meskipun kemudian dia
tunjukkan dengan menghinakan diri serta tidak menyombongkan dirinya
kepada Allah l. Akan tetapi harus dilengkapi dengan mencintai Allah l
dan membuktikan cintanya tersebut dengan menggunakan nikmat-nikmat
tersebut di jalan yang diridhai-Nya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah l telah memberitakan dalam ayat-Nya, bahwa keridhaan-Nya
hanya akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bersyukur, sebagaimana
dalam firman-Nya:
“Dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia akan meridhai kalian (dari perbuatan syukur tersebut).” (Az-Zumar: 7)
Oleh karena itu, sudah semestinya bagi orang-orang yang
mengharapkan surga Allah l untuk memperbaiki dirinya dalam bersyukur
kepada Allah l. Karena kalau tidak demikian, maka bisa jadi seseorang
menyangka dirinya telah bersyukur namun ternyata tidak demikian
kenyataannya. Padahal Allah l sebagaimana dalam firman-Nya, telah
membagi manusia menjadi dua kelompok. Yaitu kelompok orang-orang yang
bersyukur dan kelompok orang-orang yang kufur, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; maka
(manusia) ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Al-Insan: 3)
Maka marilah kita berusaha melihat pada diri kita masing-masing.
Pada kelompok yang mana kita berada? Sudahkah kita mensyukuri nikmat
waktu, nikmat sehat, penglihatan, pendengaran, lisan dan lain-lainnya
dengan menggunakannya untuk beribadah di jalan Allah l? Sudahkah kita
mensyukuri nikmat yang dikaruniakan-Nya kepada kita, kemudahan dalam
sarana transportasi dan komunikasi serta yang semisalnya untuk digunakan
di jalan Allah l? Ataukah justru sarana tersebut digunakan untuk
bermaksiat kepada Allah l?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ingatlah, bahwa nikmat-nikmat Allah l yang dikaruniakan kepada kita
sangat banyak dan kita akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat
kelak. Oleh karena itu, marilah kita mensyukuri nikmat-nikmat Allah l
dan jangan mengkufurinya. Rasulullah n telah mencontohkan kepada umatnya
dan menganjurkan umatnya untuk mensyukuri nikmat. Tersebut di dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim
rahimahumallah dalam Shahih keduanya, melalui jalan sahabat Anas z:
Bahwasanya Nabi n melewati sebiji kurma ketika sedang berjalan, maka
beliau n bersabda:
لَوْلاَ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الصَّدَقَةِ لَأَكَلْتُهَا
“Kalaulah bukan (karena aku takut) kurma tersebut dari shadaqah, sungguh aku akan memakannya.”
Dari satu hadits ini saja, kita bisa mengetahui betapa besarnya
perhatian Nabi n terhadap nikmat Allah l, sehingga tidak membiarkan
meskipun hanya sebiji kurma untuk dibuang dan rusak tanpa dimanfaatkan.
Kalau kita bandingkan dengan keadaan sebagian kita, akan kita dapatkan
perbedaan yang sangat jauh. Makanan yang dibuang sia-sia merupakan
pemandangan yang mungkin setiap hari dijumpai di sebagian rumah kita.
Baik karena berlebihan dalam memasaknya atau membelinya yang kemudian
menjadi rusak dan busuk sehingga kemudian dibuang sia-sia. Padahal
terkadang makanan tersebut bukanlah makanan yang murah harganya atau
mudah mendapatkannya. Sementara di sekitar rumahnya banyak orang-orang
fakir miskin yang tidak memiliki makanan. Sudah semestinya bagi kita
semua untuk berusaha memperbaiki dirinya dalam bersyukur kepada Allah l.
Saudara-saudaraku yang mudah-mudahan dirahmati Allah l,
Ketahuilah, bahwa seseorang apabila tidak mensyukuri nikmat Allah
l, maka dia akan berada pada satu dari dua keadaan. Kemungkinan yang
pertama, Allah l akan mengambil nikmat tersebut darinya dan kemungkinan
yang kedua, nikmat tersebut akan terus bersamanya namun akan menambah
beratnya siksa di akhirat kelak. Maka tentunya kita semua tidak ingin
terjatuh pada salah satu dari kedua keadaan tersebut.
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa
dibiarkannya mereka (terus mendapat nikmat) adalah lebih baik bagi
mereka. Sesungguhnya Kami membiarkan mereka hanyalah supaya
bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka nantinya adzab yang menghinakan.” (Ali ‘Imran: 178)
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، مَالِكُ يَوْمِ الدِّيْنِ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ بِالْهُدَى
وَدِيْنِ الْحَقِّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْن وَحُجَّةً عَلَى
الْمُعَانِدِيْنَ وَمِنَّةً عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ أَجمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:
أيُّهَا النََّاسُ، يَقُوْلَُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ كِتَابِِِهِ الكَرِيْم:
ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ
“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, dan bersyukurlah kalian
kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah:
152)
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,
Ketahuilah, bahwa nikmat yang paling besar yang Allah l karuniakan
kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat ber-Islam dan memahaminya dengan
pemahaman yang benar. Yaitu memahaminya sebagaimana yang telah diajarkan
oleh Rasulullah n kepada para sahabatnya. Karena seseorang yang telah
mendapatkan nikmat tersebut berarti dia telah mengikuti satu-satunya
jalan yang diridhai oleh Allah l, yang akan mengantarkan dirinya pada
kebahagiaan yang selamanya. Allah l berfirman:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu.” (Al-Ma`idah: 3)
Saudara-saudaraku seiman yang semoga senantiasa dirahmati Allah l,
Besarnya nikmat ber-Islam dan memahaminya dengan pemahaman yang
benar tersebut akan dirasakan oleh seseorang, ketika dia melihat
bagaimana keadaan orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat ini. Betapa
banyak orang-orang yang tersesat sehingga mengikuti akidah orang-orang
kafir dan musyrikin. Betapa banyak orang-orang yang menyimpang karena
mengikuti aturan-aturan yang diada-adakan oleh pemimpinnya atau pendiri
kelompoknya sendiri. Begitu pula, betapa banyak orang-orang yang
tersesat karena hanya mengikuti kebiasaan atau tradisi masyarakatnya
yang mengada-adakan amal ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh
Rasulullah n dan para sahabatnya. Maka, orang-orang yang benar-benar
mengikuti ajaran Islam dan memahaminya dengan pemahaman yang benar,
sungguh dirinya telah diselamatkan oleh Allah l dari berbagai bentuk
kesesatan.
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,
Besarnya nikmat Islam dan hidayah memahami agama Islam dengan benar
juga akan dirasakan manakala seseorang mengetahui janji Allah l bagi
orang-orang yang mendapatkan nikmat ini dan ancaman-Nya bagi orang-orang
yang tidak mendapatkannya. Sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang
aman. (Yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai
sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan.
Demikian pula Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka
meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran).
Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia dan
Allah memelihara mereka dari adzab neraka. Sebagai karunia dari Rabbmu.
Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.” (Ad-Dukhan: 51-57)
Allah l menyebutkan balasan bagi orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat Islam di dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan
seperti makannya binatang-binatang dan neraka Jahannam adalah tempat
tinggal mereka.” (Muhammad: 12)
Maka marilah kita berusaha untuk mensyukuri nikmat yang paling
besar ini. Meskipun nikmat yang lainnya pun tidak boleh disepelekan.
Namun nikmat mengikuti agama Islam merupakan nikmat yang paling besar
dan tidak bisa dikalahkan oleh nikmat apapun. Sekalipun dibandingkan
dengan orang mendapatkan nikmat dunia dan seisinya, namun tidak
mendapatkan nikmat Islam. Marilah kita bersungguh-sungguh dalam
mempelajari dan mengamalkannya. Tidak sekadar mengikuti kebanyakan atau
keumuman orang. Tidak pula dengan mengandalkan semangat tanpa dilandasi
ilmu. Namun harus didasarkan kepada Al-Qur`an dan hadits Nabi n serta
memahami keduanya dengan bimbingan para ulama yang mengikuti jalan
generasi terbaik umat ini. Yaitu jalannya para sahabat Nabi n. Karena
mereka adalah orang-orang yang telah mempelajari agama ini dari lisan
Rasulullah n dan mengetahui bagaimana Rasulullah n mempraktikkan agama
ini.
Dengan demikian kita akan diselamatkan dari berbagai ajaran yang
menyimpang dan selanjutnya mendapatkan janji Allah l, yaitu kenikmatan
surga pada kehidupan yang selamanya nanti. Wallahu a’lam bish-shawab.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه أَجْمَعِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
ِِ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan baca-baca isi nya