Sabtu, 30 Oktober 2010

sms gokil

Kamu itu :
1. Istimewa: 2. Baik: 3. Ramah: 4. lucu: 5. Pintar: 6. Supel: 7. Mengagumkan dan aku simpatik sama kamu.
Begitu kata teman²ku tentang AKU…Bukan tentang KAMU!!!
Coba liat nih ada 1 pohon..
,;*”*;, kamu liat
*;,Y,;* kan??
_ )(_
Knapa kamu gk prnah sms aku lagi?
Apa lu mau,,digantung disitu??
I look at the Sun…….
The Sun is Beautiful…
I look at you
i……..
i……..
i……..
I rather look at the sun again
Setelah Kepergianmu,
Hatiku Terasa Pilu…
Banyak Kenangan Terindah Yang Tak Bisa Kulupakan,
Apakah Semua Itu Akan Terulang Kembali…?
Pujaanku Kau Tetap Dihatiku Selalu…
Perasaanku Tetap Sama Seperti Dulu…
Apakah Kamu Merasakan Hal Yang Sama…?
Dan Kau Harus Tahu…
Bahwa Aku Akan Tetap Menunggu Kedatanganmu…
Selalu Dengan Hati Yang Berbunga-Bunga

Kamis, 28 Oktober 2010

anganku

         Hidup kadang kita di hadapkan pada beberapa pilihan yang terkadang kita sendiri bingung mesti pilih yang mana, dan terkadang kita mempertaruhkan perasaan,hati,pikiran bahkan harta, ini yang terjadi bila kita masih hidup dalam dunia, penuh pilihan berpariatip, di sana kita di tuntut untuk berani dalam mengambil sebuah keputusan yg bijak untuk diri sendiri maupun untuk lingkungan bahkan keluarga,
         dilema saat ada tekanan dalam kehidupan mungkin hla biasa untuk yang pernah mengalami dan bukan hal yang baru lagi , saat itu akan datang dikala kita beranjak dewasa dan kita di tuntut untuk lebih dewasa dalam berbagi hal, salah satunya dalam memilih untuk pekerjaan , kadang kita merasa ga betah bekerja di suatu tempat, banyak paktor yang membuat kita jenuh dan ga betah bekerja, semisal lingkungan kerja karena ada persaingan yang tidak sehat, pekerjaan bukan bidang yang disukai, atau hal lain,
       solusinya , 
dalam menentukan pekerjaan kita harus lihat diri kita mamapukah kita berada di sana, bila tidak jangan sekali2 memaksakan , itu akan jadi bumerang, hal lain yang harus di perhatikan bidang pekerjaan apa yang paling menarik buat diri kita, bila kita mulai tidak suka dengan bidang itu menjauh akan lebih baik, 

Selasa, 26 Oktober 2010

RACUN CINTA


Racun Cinta






Jangan biarkan "racun" mengganggu hubungan cinta Anda.



S
eperti juga lingkungan yang tercemar bila kita ceroboh karena tidak menjaganya, ternyata kita juga bisa menciptakan racun untuk hubungan perkawinan kita lewat perbuatan dan perkataan yang negatif. Padahal alih-alih mencemari, harusnya kita malah merawatnya. Namun jangan lupa, untuk merawatnya juga diperlukan terobosan-terobosan mengingat hubungan perkawinan bersifat dinamis –yang tumbuh dan berubah– dengan pengalaman dan masalah baru.

Tidak dapat dielakkan bahwa setiap pasangan menginginkan hubungan yang selalu sehat. Namun, meski Anda memutuskan menikah dengan seseorang karena merasa banyak kesamaan, setiap orang pada dasarnya unik. Itu sebabnya selalu saja ada konflik yang menyertai.

Bisa juga salah satu, atau bahkan Anda berdua merasa bosan sehingga tidak lagi melakukan kegiatan-kegiatan bersama yang sebenarnya justru dapat menyegarkan perkawinan. Apakah ini berarti Anda dan pasangan sudah tidak saling peduli? Mungkin saja tidak, tetapi Anda berdua tengah memasuki "area nyaman" perkawinan sehingga merasa tak perlu lagi bekerja keras untuk membuat hubungan lebih romantis, lebih mesra, dan lebih segar karena semuanya sudah berjalan sebagaimana mestinya.

Anda dapat melihat dan mempelajari polusi-polusi yang dapat memberi dampak negatif sekaligus cara membersihkannya agar mampu menjaga hubungan perkawinan Anda selalu sehat.


1: Rasa Malas

Kemalasan adalah musuh utama perkawinan. Seperti halnya kemalasan di sekolah atau di kantor yang bisa membuat Anda terancam tidak lulus atau karier Anda terhambat, kemalasan juga membawa konsekuensi buruk dalam perkawinan. Perilaku ini membuat Anda hanya menjalaninya saja hingga Anda berdua lupa melakukan hal-hal yang seharusnya bisa membuat perkawinan menjadi lebih mesra.

Secara alami, sejalan dengan usia perkawinan yang bertambah, Anda sudah merasa nyaman berdua. Tapi tak banyak pasangan yang menyadari, semakin banyak menghabiskan waktu berdua, sebenarnya semakin sedikit kepedulian Anda pada hal-hal baru yang menyegarkan di luar sana yang bila dilakukan justru bisa menyemarakkan perkawinan. Anda merasa sudah "tahu sama tahu" sehingga entah lupa atau malas, tak lagi memikirkan kejutan romantis atau tampil memikat untuk menarik perhatian pasangan.

Tak ada salahnya sih merasa nyaman dengan pola hubungan yang sudah ada. Malah salah satu ciri perkawinan yang sehat adalah semua pihak merasa aman dan nyaman satu sama lain. Tapi jika merasa nyaman lantas terlena, Anda berdua tak lagi berusaha mencari cara-cara baru untuk menyemarakkan cinta agar perkawinan selalu tersegarkan. Pada satu titik, kenyamanan ini justru akan membuahkan kebosanan. Tak mustahil jika ini terjadi masing-masing pihak mencari hal-hal baru yang lebih segar. Bukan dari pasangannya, tapi justru mencari di luar rumah. Sayang, kan?

Solusi:

Jika tampaknya polusi malas mulai mencemari hubungan Anda, berarti sudah waktunya Anda dan pasangan segera bangkit dan berlaku aktif! Buatlah hal-hal yang membuat pasangan Anda tahu betapa Anda masih mencintainya dengan tulus dan tergila-gila padanya. Sebaliknya, tunjukkan pula padanya bahwa Anda menginginkannya, butuh perhatiannya dan ingin melakukan banyak hal bersamanya. Carilah tempat yang dapat dinikmati bersama, seperti tempat liburan favorit Anda berdua. Kalau selama ini Anda melakukan hobi sendiri-sendiri, cari hobi baru yang bisa dilakukan dan dinikmati bersama sehingga Anda berdua merasa semakin terikat satu sama lain. Tak perlu melakukan hal-hal yang mewah atau spektakuler, sepanjang Anda berdua seia sekata melakukannya demi membuat hubungan semakin segar dan hidup.


2: Argumen

Bukan argumennya yang menjadi racun, tapi bagaimana cara Anda berdua adu argumentasi ketika terjadi perbedaan pendapat. Argumentasi merupakan hal wajar dan penting karena sering kali justru dapat membuat Anda dan pasangan menjadi lebih dekat. Beradu argumentasi merupakan proses pertukaran informasi dimana salah satu pihak menolak informasi/pendapat dari pihak lain. Lewat argumentasi, Anda dan pasangan belajar bahwa setiap orang sering kali mempunyai perbedaan cara pikir. Masing-masing dapat menggunakan beda cara pikir ini untuk dapat lebih memahami satu sama lain.

Lalu pada akhirnya saling menghargai juga menuntun kita bertingkah laku lebih bijak di hadapan satu sama lain. Sayangnya, kebanyakan argumentasi dilakukan dengan cara negatif, seperti saling berteriak yang tujuannya semata-mata mengedepankan ego masing-masing. Ujung-ujungnya, argumentasi yang seharusnya konstruktif dan menjadi pengalaman belajar untuk mencari titik temu malah menjadi arena pertengkaran yang tak berkesudahan.

Solusi:

Perlu diingat bahwa berargumentasi bukan hal yang jelek dalam perkawinan. Tapi argumentasi dalam perkawinan yang sehat bertujuan mencari titik temu dan kompromi yang bisa menyenangkan semua pihak. Jadi, Anda berdua harus belajar, ketika hendak berargumen, siapkan hati dan pikiran yang terbuka dengan tujuan mencari solusi.


3: Penolakan

Penolakan adalah racun yang sangat mengganggu perkawinan. Banyak dari kita yang seolah "buta" bahwa hubungan dalam perkawinan tak lagi sehat. Kita berusaha mengelak bahwa semuanya baik-baik saja, sehingga kita menutup diri terhadap apa yang sebenarnya terjadi.

Hubungan dalam perkawinan, karena bersifat dinamis, selalu ada pasang surutnya. Kadang muncul tantangan dan problem yang bisa saja menyakitkan dan menimbulkan rasa marah. Tapi kalau kita menolaknya dan berpikir semuanya oke, hal ini malah membuat hubungan menjadi lebih buruk. Mengesampingkan masalah tidak akan membuatnya pergi. Malah akan membuat masalah itu sendiri bertambah besar dan besar sampai hubungan Anda benar-benar di ujung tanduk. Masalah dan tantangan akan selalu muncul, tapi solusinya baru bisa dicari jika Anda berdua mengakuinya bahwa memang ada.

Solusi:

Bersikaplah realitis dan terimalah kenyataan bahwa masalah dan tantangan dalam perkawinan bisa selalu muncul berbarengan dengan rasa cinta yang tetap melekat satu sama lain. Menyadari hal ini dapat membantu Anda berdua lebih siap menerima masalah yang tengah datang dan mencari solusinya.

Kalau Anda berdua ingin terus bersama, tentu saja yang dibutuhkan adalah tim yang kuat sepanjang waktu, di saat terpuruk ataupun bahagia. Seperti tim dalam olahraga, Anda berdua tak boleh menutup mata terhadap kekuatan lawan. Anggap saja yang menjadi lawan adalah masalah, sehingga selalu dicari cara-cara yang dapat mengalahkan masalah. Kiasannya, jika Anda menghindari "penyakit", Anda justru tidak pernah tahu mana obat yang tepat dan mujarab. 


Depinisi

      dan semua masalah pasti ada jawaban nya, tergantung kita pandai apa tidaknya menyikapi masalah tersebut, dan bila di sudutkan dengan rasa dan perasaan mengapa tidak mengikuti kata hati, bila suatu hubungan tidak lagi ada hati yang menyertainya sampai kapanpun kebahagiaan itu takan tercapai yg ada malah rasa curiga yang tanpa alasan dan kadang menjadi bumerang buat diri sendiri, 
       dan pada intinya untuk obat hati tersebut agamalah yg paling tepat, perkuat iman perkuat keyakinan dan lebih mendekatkan diri padal sang pencipta , akan memberikan kedamaian yang berbeda dan hanya cinta allah sama umatnyalah cinta yg sesungguhnya, kenapa demikian , karena cintanya allah kita masih di beri kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertaubat akan semua kesalahan yang pernah kita lakukan dan tak pernah putus allah memberikan nikmatnya yang kadang kita lupa mensyukurinya,,,,,,,, mari kita kembali kepadanya , semoga kita mendapatkan kedamaian hati berkat rahmatnya, dan kau kudoaakan moga kau melalui dan merasakan kasih tuhannnnnnnnnnnnn,,,,,,,,,,....! 

mitos tentang ayah

Cihui...makin banyak saja ayah yang mau melakukan pekerjaan rumah tangga untuk membantu ibu.


Ayah era dulu digambarkan sebagai ayah yang melulu mencari nafkah di luar rumah lalu pulang membawa uang untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Mereka hanya meluangkan waktu sedikit untuk anak-anak. Tapi itu dulu.

David J. Eggebeen dan Chris Knoester, dua psikolog keluarga dalam bukunya Does Fatherhood Matter For Men (Willeys Book, Los Angeles, USA 2000) memaparkan banyak pencitraan tentang pria masa kini yang masih berasumsi dari mitos-mitos kebapakan generasi sebelumnya. Padahal ayah-ayah sekarang berbeda. Mereka sadar betul bahwa ayah adalah sosok yang sama pentingnya dengan ibu bagi anak.


Mitos 1: Ketika bayi, anak tidak memerlukan ayah.

Fakta: Marcus Jacob Goldman, MD dalam bukunya The Joy of Fatherhood (Three River Press, UK, 2000) memang menegaskan soal kedekatan hubungan antara ibu dan bayi, terutama bila bayi sedang menyusu. Pemandangan ini membuat ayah tidak yakin apakah si bayi memerlukannya. Untungnya, ayah zaman sekarang tahu persis cara yang tepat untuk mendekatkan diri pada buah hatinya, yakni dengan berani menggendong, mencium dan membelai si kecil.


Mitos 2: Ayah tidak tahu cara merawat anak.

Fakta: Dr. Henry Cloud dan Dr. John Townsend lewat bukunya Raising The Great Children (Zondervan, UK, 1998) mengatakan para ibu tak perlu khawatir karena pada kenyataannya ayah dapat merawat anak-anak sama baiknya dengan ibu karena semua ayah sebenarnya secara naluriah dikaruniai kemampuan untuk merawat anaknya. Tentu saja, seperti halnya ibu, ayah juga butuh waktu untuk belajar merawat buah hatinya, terutama ketika si kecil baru lahir. Ingat, para ayah juga butuh referensi agar terbiasa dengan perannya.


Mitos 3: Ayah yang penuh perhatian pada anak biasanya tak konsentrasi di jalur kariernya.

Fakta: Pria dibesarkan dan dididik untuk bekerja. Pekerjaan menjadi salah satu kunci dari rasa percaya diri mereka. Sayangnya, masyarakat menilai pria yang mengorbankan hidupnya dan lebih memilih keluarga daripada kariernya adalah mereka yang tidak sukses dalam pekerjaannya. Padahal menurut Cloud dan Townsend (1998), kini zaman sudah berubah. Banyak pria yang sangat menikmati perannya sebagai ayah. Peran ini sedemikian berarti dan meningkatkan status ayah. Perubahan status ayah ini justru dirasakan sebagai pemicu untuk lebih sukses dalam karier sehingga kian banyak kebutuhan anak yang dapat terpenuhi.


Mitos 4: Pola asuh ayah akan sama dengan ayahnya dulu.

Fakta: Tidak dapat dipungkiri bahwa pola asuh yang didapatnya dulu akan memberi banyak masukan ketika seorang pria menjadi ayah. Contohnya, dalam merawat anak. Biasanya pria akan mengikuti cara ayahnya dulu ketika sang ayah membesarkannya. Wajar-wajar saja kan? Tapi pria sekarang juga berusaha menciptakan identitas dirinya sendiri sebagai seorang ayah. Pola asuh sang ayah dulu bukan lagi menjadi satu-satunya contoh. Para ayah modern kini berani mencontoh dan melihat role model dari media massa, lingkungan sosial, dan buku-buku pengasuhan. Para ayah ini berani memilih yang terbaik bagi keluarganya dengan mengambil sisi positif dari keluarga dimana dulu dia dibesarkan untuk menambahkan hal-hal positif yang menurutnya baik. Demikian yang ditegaskan Daniel N. Hawkins, Paul R. Amato, Valarie King (2006) dalam “Parent-Adolescent Involvement: The Relative Influence of Parent Gender and Residence” dalam Journal of Marriage and Family.


Mitos 5: Ayah tak mau mengorbankan pekerjaannya meski demi anak-anak.

Fakta: Dulu, ayah dianggap tidak pantas bila harus keluar dari pekerjaannya. Kini, pasangan modern semakin realistis. Bila karier ibu lebih maju, bisa saja ayah dengan sukarela meninggalkan pekerjaannya untuk mengurus rumah dan anak-anak. Lagi pula banyak pekerjaan zaman sekarang yang bisa dilakukan di rumah oleh para ayah, semisal menjadi konsultan ataupun penulis. Hal ini dinyatakan Koray Tanfer dalam bukunya,The Meaning of Fatherhood. (Whitaker Aguse, UK, 2002)


Mitos 6: Ayah hanya meluangkan sedikit waktu bersama anak-anaknya.

Fakta: Penelitian yang dilakukan Richard Lamb (2002) di Amerika terhadap 3.500 ayah berusia 25-45 tahun membuktikan hal sebaliknya. Kini, semakin banyak ayah yang bersedia meluangkan sebanyak mungkin waktu bersama anak-anaknya. Ketersediaan waktu tersebut diwujudkan dalam bentuk keterlibatan dalam pengasuhan anak, berinteraksi dengan anak dalam jarak dekat (ketika di rumah) maupun jarak jauh (memantau dari kantor) serta menemani anak belajar. Para ayah menyadari bahwa anak-anak berhak mendapatkan waktu lebih banyak, sama banyaknya dengan waktu yang disediakan ibu. Lamb juga mengemukakan ketersediaan waktu juga mampu disediakan ayah bagi anak gadisnya, sama besar porsinya dengan yang disediakan bagi anak lelakinya.


Mitos 7: Ayah tunggal pasti tak mampu mengasuh anak-anaknya.

Fakta: Ayah tunggal, entah karena perceraian ataupun kematian, kini banyak yang betul-betul siap mengasuh anak-anaknya sendirian. Mereka dengan terampil dan up to date mampu menyiapkan kebutuhan anak-anaknya dan mendidik mereka. Di Indonesia, menjadi ayah tunggal mungkin terbantu dengan banyaknya uluran tangan dari kerabat dekat. Toh di luar negeri pun seperti dikemukakan oleh Terry Arrendell dalam “Divorce: It’s a Gender Issue,” American Bar Association Family Advocate, Vol. 17, bahwa ayah zaman sekarang tampaknya tak canggung sendirian membesarkan anak-anaknya.


Mitos 8: Peran ayah tidak berubah selama dua dekade.

Fakta: Salah besar bila mengatakan peran ayah stagnan alias tak mengalami peningkatan. Nyatanya, temuan Louise B. Silverstein dan Carl F. Auerbach dalam artikelnya “Deconstructing the Essential Father” yang dimuat dalam Journal of American Psychologist, Vol.54, menyatakan begitu banyak peran tradisional yang dulu dipegang ibu, kini tak sungkan diambil alih oleh ayah. Kecuali hamil, melahirkan dan menyusui, ayah semakin jauh terlibat dalam kehidupan si anak. Coba saja perhatikan, para ayah ini menemani bermain, mendampingi belajar, makan bersama, bahkan menyiapkan makanan untuk anak-anaknya.


Mitos 9: Ayah tidak dapat menggantikan peran ibu bagi anak perempuan.

Fakta: Apa pun jenis kelamin anaknya, ayah mampu menjadi role model yang tepat. Jangan dikira ayah tak mampu bermain dengan anak perempuan. Karena untuk membentuk ketangguhan fisiknya, anak perempuan pun memerlukan permainan yang mengasah motorik kasar seperti melompat atau berlari dan biasanya ayahlah yang selalu siap untuk menemani anak-anak dalam permainan jenis ini. Bagi anak lelaki, ayah menjadi contoh bagaimana berperilaku dan bersikap sebagai seorang gentleman. Sedangkan bagi anak perempuan, ayah merupakan contoh yang dekat dan sehat bagaimana dunia lelaki yang sesungguhnya sehingga anak perempuan tidak akan canggung ketika kelak menghadapi lawan jenisnya dalam pergaulan sosial. Demikian yang dikupas Piere Bronstein & C. P. Cowan dalam Fatherhood Today: Mens Changing Role In the Family. John Wiley & Sons, New York, 2002.


Mitos 10: Ayah hanya berkutat pada soal disiplin.

Fakta: Ayah memang sering dicitrakan sebagai pribadi kaku yang hanya mengedepankan soal disiplin dan keteraturan bagi anak-anaknya. Padahal sebenarnya, seperti yang disebut M.Y. Yogmen & Dwight Kindlon dalam bukunya Fathers, Infants and Toddlers (Harpers Parenting, New Jersey, 1998), ayah juga mampu bersikap hangat kepada anak-anak. Kehangatan itu ditunjukkannya dalam bentuk bermain bersama, menyiapkan makan malam bersama ibu dan menemani anak-anak belajar. Ayah modern justru enggan mencitrakan dirinya sebagai sosok yang dingin yang disegani dan dijauhi anak-anaknya. 


asepkumaradewa

bismilah hirihmanirohim