Artikel Buletin An-Nur :
Beberapa Catatan Tentang Ajaran Sufi
senin 07 maret 2011
Nama dan ajaran Sufisme tidak pernah dikenal atau ada pada masa kehidupan Rasul
Shallallaahu 'alaihi wa Salam, para shahabat dan Tabi'in. kemudian setelah itu muncul
sekelompok orang zuhud yang mengenakan pakaian sangat sederhana yang disebut
dengan shuf (kulit domba) dan dari situlah awal penamaan sufi. Ada juga pendapat yang
mengatakan bahwa sufi berasal dari kata sufiya yang dalam buku-buku falsafah Yunani
diartikan dengan hikmah.
Shallallaahu 'alaihi wa Salam, para shahabat dan Tabi'in. kemudian setelah itu muncul
sekelompok orang zuhud yang mengenakan pakaian sangat sederhana yang disebut
dengan shuf (kulit domba) dan dari situlah awal penamaan sufi. Ada juga pendapat yang
mengatakan bahwa sufi berasal dari kata sufiya yang dalam buku-buku falsafah Yunani
diartikan dengan hikmah.
Yang jelas munculnya nama baru ini ternyata membawa dampak bagi kaum muslimin,
dimana akhirnya ajaran Sufi ini pecah menjadi sekian banyak aliran (tharikat) dan sufi
yang berkembang sekarang ini lebih banyak kebid'ahan dan pemyimpangannya dibanding
pendahulunya. Berikut ini penjelasan syaikh Muhammad bin Jamil Zainu tentang
beberapa pokok ajaran sufi beserta tinjauannya dari pandangan Al Qur'an dan Sunnah.
dimana akhirnya ajaran Sufi ini pecah menjadi sekian banyak aliran (tharikat) dan sufi
yang berkembang sekarang ini lebih banyak kebid'ahan dan pemyimpangannya dibanding
pendahulunya. Berikut ini penjelasan syaikh Muhammad bin Jamil Zainu tentang
beberapa pokok ajaran sufi beserta tinjauannya dari pandangan Al Qur'an dan Sunnah.
•
Ajaran sufisme memiliki tharikat yang sangat banyak, masing-masing mengklaim
bahwa tharikatnya yang paling benar. Padahal Al Qur'an melarang itu semua
sebagaimana dalam firman Allah, artinya:
bahwa tharikatnya yang paling benar. Padahal Al Qur'an melarang itu semua
sebagaimana dalam firman Allah, artinya:
"Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu
orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada
golongan mereka." (QS. Ar Rum :31-32)
orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada
golongan mereka." (QS. Ar Rum :31-32)
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam juga menjelaskan bahwa tariqah atau jalan
yang lurus hanyalah satu, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Ibnu Mas'ud.
•
Ajaran sufisme membolehkan berdoa kepada selain Allah, baik itu nabi, para wali
yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Diantara mereka ketika
beristighatsah ada yang mengucapkan: "Ya Syaikh Abdul Qadir Jailani, Ya Rifai
atau ya Nabi kepadamulah kami bersandar dan minta pertolongan". Ini menyalahi
firman Allah yang artinya: "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak
memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah;
sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau
begitu termasuk orang-orang yang zalim". (QS. 10:106)
yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Diantara mereka ketika
beristighatsah ada yang mengucapkan: "Ya Syaikh Abdul Qadir Jailani, Ya Rifai
atau ya Nabi kepadamulah kami bersandar dan minta pertolongan". Ini menyalahi
firman Allah yang artinya: "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak
memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah;
sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau
begitu termasuk orang-orang yang zalim". (QS. 10:106)
•
Qur'an mengetahui bahwa yang mengatur semua urusan adalah Allah.
•
Sebagian penganut sufisme meyakini wihdatul wujud (alam adalah satu kesatuan sebagai wujud Rabb), ittihad atau hulul (bersatunya hamba dengan rabb) sehingga tidak ada beda antara khaliq dan makhluk. Ajaran ini disebarkan oleh Ibnu Arabi yang dalam penggalan syairnya ia berkata: "Hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba". (Al Futuhat Al Makiyyah , Ibnu Arabi).
Ajaran ini sangat keterlaluan karena orang yang musyrik atau sangat bodoh
sekalipun akan bisa membedakan dirinya dengan Rabb (Tuhan).
•
Sebagian kaum sufi mengajarkan zuhud dalam kehidupan, namun dengan cara
meninggalkan sebab-sebab atau usaha dan jihad (berjuang) padahal Allah telah
berfirman, artinya: " Dan carilah pada apa yang telah dianu-gerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." (QS. 28:77)
meninggalkan sebab-sebab atau usaha dan jihad (berjuang) padahal Allah telah
berfirman, artinya: " Dan carilah pada apa yang telah dianu-gerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." (QS. 28:77)
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi." (QS. 8:60)
•
Tingkatan ihsan dalam sufi adalah ketika mereka berdzikir (kepada Allah), mereka
membayangkan syaikh mereka bahkan ketika shalat pun demikian, tidak jarang
diantara mereka yang menghadap gambar syaikhnya ketika shalat. Ini
bertentangan dengan makna hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Ihsan adalah beribadah kepada Allah
seolah-olah kita melihatNya.
membayangkan syaikh mereka bahkan ketika shalat pun demikian, tidak jarang
diantara mereka yang menghadap gambar syaikhnya ketika shalat. Ini
bertentangan dengan makna hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Ihsan adalah beribadah kepada Allah
seolah-olah kita melihatNya.
•
Dalam tasawuf seseorang tidak boleh beribadah kepada Allah karena takut neraka
dan karena mengharap surga. Padahal Allah memuji para Nabi yang berdoa
kepadaNya karena mengharap surga dan karena takut akan SiksaNya. Firman
Allah, artinya: "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera
dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada
Kami dengan harap dan cemas."(QS. 21:90), yakni mengharap surga dan cemas
akan siksa dan adzab Allah.
dan karena mengharap surga. Padahal Allah memuji para Nabi yang berdoa
kepadaNya karena mengharap surga dan karena takut akan SiksaNya. Firman
Allah, artinya: "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera
dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada
Kami dengan harap dan cemas."(QS. 21:90), yakni mengharap surga dan cemas
akan siksa dan adzab Allah.
•
Ajaran Sufisme membolehkan mengeraskan suara dalam do'a atau zikir dan
terkadang diiringi alat musik dan disertai tari-tarian sedang Allah telah berfirman,
artinya: "Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS.
7:55)
terkadang diiringi alat musik dan disertai tari-tarian sedang Allah telah berfirman,
artinya: "Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS.
7:55)
•
Sebagian kaum sufi tidak malu-malu menyebut nama khamar, mabuk, wanita dan jatuhcinta dalam syair-syairnya dan terkadang itu dibaca dalam acara-acara yang diadakan di masjid, sambil diiringi tepuk tangan dan teriakan-teriakan. Dalam Al Qur'an dijelaskan bahwa bertepuk tangan merupakan adat orang-orang musyrik
dalam ibadah mereka. Firman Allah, artinya: "Sembahyang mereka di sekitar
Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab
disebabkan kekafiranmu itu." (QS. 8:35)
Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab
disebabkan kekafiranmu itu." (QS. 8:35)
•
Sebagian orang Sufi ada yang senang melakukan atraksi-atraksi tertentu, misalnya
menusuk, memukul diri dengan besi lalu ia memanggil ya jaddah (wahai eyang)
sehingga ia tidak sakit atau terluka. Sebagian orang jahil menyangka bahwa ini
adalah karamah padahal tidak lain adalah istidraj (pemberian yang
menjerumuskan).
menusuk, memukul diri dengan besi lalu ia memanggil ya jaddah (wahai eyang)
sehingga ia tidak sakit atau terluka. Sebagian orang jahil menyangka bahwa ini
adalah karamah padahal tidak lain adalah istidraj (pemberian yang
menjerumuskan).
•
Orang-orang Sufi meyakini metode kasyf untuk menyingkap perkara-perkara
ghaib. Padahal tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah
sebagaimana Firman Nya, yang artinya: "Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di
langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan
mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (QS. 27:65)
ghaib. Padahal tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah
sebagaimana Firman Nya, yang artinya: "Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di
langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan
mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (QS. 27:65)
•
Orang Sufi berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Salam
diciptakan oleh Allah dari NurNya. Kemudian dari Nur Muhammad diciptakan
alam ini. Sedang Al Qur'an menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallaahu
'alaihi wa Salam adalah manusia biasa yag diberi wahyu, dalam artian bahwa
beliau anak turun Nabi Adam yang diciptakan dari tanah dan terlahir melalui
seorang ibu. Firman Allah, artinya: "Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya
seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa
sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa". (QS. 18:110)
diciptakan oleh Allah dari NurNya. Kemudian dari Nur Muhammad diciptakan
alam ini. Sedang Al Qur'an menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallaahu
'alaihi wa Salam adalah manusia biasa yag diberi wahyu, dalam artian bahwa
beliau anak turun Nabi Adam yang diciptakan dari tanah dan terlahir melalui
seorang ibu. Firman Allah, artinya: "Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya
seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa
sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa". (QS. 18:110)
Kaum Sufi punya keyakinan bahwa dunia dan seisinya diciptakan karena Nabi
Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Salam padahal Allah telah berfirman bahwa jin
dan manusia diciptakan adalah untuk beribadah, yang artinya: "Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (QS.
51:56)
Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Salam padahal Allah telah berfirman bahwa jin
dan manusia diciptakan adalah untuk beribadah, yang artinya: "Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (QS.
51:56)
Ajaran Sufisme juga meyakini bahwa seseorang bisa melihat Allah ketika di
dunia. Sedang Al Qur'an menyangkal semua ini. Sebagaimana kisah Nabi Musa
yang ingin melihat Allah, artinya: " Rabb berfirman: "Kamu sekali-kali tak
sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya
(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabbnya
menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan
Musapun jatuh pingsan. (QS. 7:143)
dunia. Sedang Al Qur'an menyangkal semua ini. Sebagaimana kisah Nabi Musa
yang ingin melihat Allah, artinya: " Rabb berfirman: "Kamu sekali-kali tak
sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya
(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabbnya
menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan
Musapun jatuh pingsan. (QS. 7:143)
Diantara orang Sufi ada yang mengaku bisa bertemu Nabi Muhammad
Shallallaahu 'alaihi wa Salam (setelah beliau meninggal) dalam keadaan terjaga
atau sadar penuh. Ini adalah sesuatu kedustaan, karena Al Qur'an menjelaskan
bahwa alam barzah itu terdinding sehingga tidak mungkin orang yang telah
meninggal kembali lagi ke dunia, Firman Allah, artinya: "Dan di hadapan
mereka(yang telah meninggal) ada dinding sampai hari mereka dibangkitan." (QS
Shallallaahu 'alaihi wa Salam (setelah beliau meninggal) dalam keadaan terjaga
atau sadar penuh. Ini adalah sesuatu kedustaan, karena Al Qur'an menjelaskan
bahwa alam barzah itu terdinding sehingga tidak mungkin orang yang telah
meninggal kembali lagi ke dunia, Firman Allah, artinya: "Dan di hadapan
mereka(yang telah meninggal) ada dinding sampai hari mereka dibangkitan." (QS
23:100)
Sebagian penganut tasawwuf ada yang mengaku bahwa ia mendapat ilmu
langsung dari Allah tanpa melalui Rasul Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Ibnu Arabi
mengatakan: "Dan dikalangan kami ada yang mengambil ilmu langsung dari
Allah, maka ia menjadi pengganti Allah (khali-fatullah)."
langsung dari Allah tanpa melalui Rasul Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Ibnu Arabi
mengatakan: "Dan dikalangan kami ada yang mengambil ilmu langsung dari
Allah, maka ia menjadi pengganti Allah (khali-fatullah)."
Ini adalah ucapan yang batil, karena Al Qur'an menjelaskan bahwa perintah dan
larangan Allah disampikan melalui RasulNya, sebagaimana firman-Nya, yang
artinya: "Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu."
(QS. 5:67)
larangan Allah disampikan melalui RasulNya, sebagaimana firman-Nya, yang
artinya: "Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu."
(QS. 5:67)
Kemudian seseorang tidak akan mungkin jadi pengganti Allah, karena Allah tidak
akan bisa lupa atau terlengah dalam mengawasi makhlukNya, justru Allahlah yang
menjadi pengganti dalam menjaga keluarga kita, ketika kita sedang safar
(bepergian) oleh karena itu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam mengajarkan do'a:
"Ya Allah Engkaulah teman dalam safar dan pengganti dalam kelaurga." (HR.
Muslim)
akan bisa lupa atau terlengah dalam mengawasi makhlukNya, justru Allahlah yang
menjadi pengganti dalam menjaga keluarga kita, ketika kita sedang safar
(bepergian) oleh karena itu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam mengajarkan do'a:
"Ya Allah Engkaulah teman dalam safar dan pengganti dalam kelaurga." (HR.
Muslim)
•
Kaum sufi merayakan maulid dengan berkumpul dan menamakannya Majlis
Shalawat Nabi. Sebagian mereka beri'tiqad bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Salam datang dalam acara tersebut dan bisa menolong mereka.
Shalawat Nabi. Sebagian mereka beri'tiqad bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Salam datang dalam acara tersebut dan bisa menolong mereka.
•
Kebanyakan orang sufi bersusah payah menyiapkan bekal dan uang, sekedar untuk
menziarahi kubur tertentu dan bertabaruk (mencari berkah) di sana, dan ada pula
yang menyembelih binatang atau thawaf. Ini melanggar larangan Rasul
Shallallaahu 'alaihi wa Salam, dalam sebuah sabdanya, yang artinya: "Tidak boleh
menziarahi kubur tertentu dan bertabaruk (mencari berkah) di sana, dan ada pula
yang menyembelih binatang atau thawaf. Ini melanggar larangan Rasul
Shallallaahu 'alaihi wa Salam, dalam sebuah sabdanya, yang artinya: "Tidak boleh
bersusah payah menyiapkan bekal untuk berpergian kecuali ke tiga masjid :
Masjidil Haram, Masjdku ini (Nabawi), dan Masjidil Aqsha." (Muttafaq 'Alaih).
Yang dimaksud bepergian dalam hadits di atas adalah dalam rangka ibadah atau
mendatangi tempat-tempat yang dianggap mulia.
•
Kaum Sufi sangat fanatik dengan perkataan syaiknya (gurunya), walaupun
terkadang ucapan itu tidak sesuai dengan sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Salam. Firman Allah, artinya: " Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
terkadang ucapan itu tidak sesuai dengan sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Salam. Firman Allah, artinya: " Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah." (QS. 49:1)
•
Kaum sufi banyak menggunakan Thalasim (rajah), huruf-huruf, dan angka-angka
dalam memilih (baca: meramal), juga ada yang menggunakan jimat dan
pengasihan. Ini termasuk perbuatan Arraf (tukang ramal) yang berbuat kesyirikan.
dalam memilih (baca: meramal), juga ada yang menggunakan jimat dan
pengasihan. Ini termasuk perbuatan Arraf (tukang ramal) yang berbuat kesyirikan.
•
Kaum sufi senang membikin-bikin shalawat yang isinya terkadang mengandung
kemusyrikan dan jarang menggunakan shalawat yang telah diajarkan oleh
Rasulullah.
kemusyrikan dan jarang menggunakan shalawat yang telah diajarkan oleh
Rasulullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan baca-baca isi nya