Senin, 31 Oktober 2011


Islam itu Indah wahai sahabat::;;;; Pandangan yang Benar tentang Jihad dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar


Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di 
 
Keindahan selanjutnya adalah ajaran jihad, perintah untuk melakukan semua yang ma’ruf, dan larangan dari semua yang mungkar dalam agama ini. Jihad yang dikandungnya sebenarnya dimaksudkan untuk menolak tindakan aniaya orang-orang zhalim terhadap hak-hak agama ini dan dakwahnya. Inilah jenis perjuangan yang paling afdhal di mana tidak dimaksudkan dengannya ambisi, tamak, atau keinginan-keinginan hawa nafsu lainnya.
Barangsiapa yang melihat kepada dalil-dalil pokok ini serta melihat sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dalam menyikapi musuhnya, maka ia akan tahu tanpa ragu sama sekali bahwa jihad masuk dalam persoalan darurat (hanya dilakukan jika sangat terpaksa) untuk menolak tindakan aniaya orang-orang yang melampaui batas.

Demikian halnya dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar, ketika agama ini takkan stabil kecuali dengan keistiqamahan penganutnya dalam memegang ushul dan syariatnya, melakukan perintah-perintahnya yang merupakan puncak keharmonisan, meninggalkan larangan-larangannya yang merupakan keburukan dan kerusakan, dan juga agar hawa nafsu yang zhalim tidak menghias-hiasi atas mereka untuk nekat melakukan perbuatan haram, lalai dalam melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan, maka ditetapkan amar ma’ruf dan nahi mungkar yang akan menyempurnakan semuanya.


Inilah bagian terbesar dari keindahan agama Islam, hal yang sangat darurat untuk ditegakkan, sebagaimana padanya ada tindakan meluruskan penganutnya yang bengkok, pembersihan jiwa, dan cambukan bagi mereka dari melakukan perbuatan yang hina, serta membawa mereka untuk melakukan perbuatan mulia.


Adapun membiarkan saja mereka berbuat semaunya setelah mereka berpegang dengan agama Islam dan masuk dibawah hukum dan syariatnya, maka merupakan kezhaliman dan kemudharatan yang terbesar atas mereka sendiri juga atas masyarakat. Khususnya jika berbuat semaunya terhadap hak dan kewajiban yang dituntut oleh syara’, akal, dan adat.
di kutip oleh asep kumara dewa : http://asepkumaradewa.blgspot.com

Pelajaran Berharga dari Iedul Qurban


Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari
 
Meski baru saja ‘Iedul Adha atau ‘Iedul Qurban meninggalkan kita, dan walau setahun kemudian kita akan bertemu dengannya lagi -insya Allah-, ‘Iedul Qurban telah menyimpan pelajaran yang sangat berharga bagi kita dan kaum muslimin di manapun berada yang takkan pernah hilang dan lepas dari diri kita sekalipun dimakan rentang waktu.

Berqurban tidaklah semata-mata menyembelih hewan pada waktu ‘Iedul Adha, walaupun kata qurban secara bahasa ialah hewan yang disembelih waktu adha -sedangkan menurut istilah, qurban ialah hewan yang dikhususkan pada waktu yang dikhususkan dan syarat-syarat yang dikhususkan pula dengan niatan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah)- tetapi di balik itu semua tersimpan sesuatu yang berharga yang keabsahan qurbanpun tergantung padanya, bahkan ia sebagai syarat bagi ibadah-ibadah lainnya. Pelajaran berharga itu adalah tauhid, ikhlas semata untuk Allah.
 
Ketahuilah bahwa kedudukan tauhid dalam ibadah ibarat kedudukan wudlu dalam sholat, yang tidak sah sholat seseorang jika tidak memiliki wudlu demikian pula tidak sah ibadah seseorang kecuali dengan tauhid. Perhatikanlah ketika Allah berfirman (yang artinya), "Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah." (QS Al Kautsar: 2). Allah memerintahkan rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menjadikan sholatnya dan sembelihannya ikhlas untuk Allah saja tidak ada serikat baginya (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/600).
 
Allah juga berfirman (yang artinya), "Katakanlah sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS Al An’am: 162-163).
 
Menyembelih hewan qurban adalah salah satu syiar Islam terbesar, dimana pada hari itu adalah hari kemenangannya ahli tauhid yang Allah perintahkan mereka agar menyelisihi kaum musyrikin dalam peribadahannya dan penyembelihannya. Allah berfirman (yang artinya), "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari memperhatikan doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (QS Al Ahqaaf: 5-6).
 
Dan Allah juga berfirman (yang artinya), "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menyeru mereka seraya berkata: Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan? Berkatalah orang-orang yang telah tetap hukuman atas mereka: Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu, kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat, kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami. Dikatakan (kepada mereka): Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu. Lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka dan mereka melihat adzab (mereka ketika itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk." (QS Al Qashash: 62-64).
 
Perintah berqurban adalah perintah yang disyariatkan oleh Allah. Allah berfirman (yang artinya), "Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." (QS Al Hajj: 34).
 
Ia juga sebagai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat ditekankan. Cukuplah yang demikian itu ditunjukkan dengan firman Allah (yang artinya), "Barangsiapa yang mentaati Rasul itu sesungguhnya ia telah mentaati Allah." (QS An Nisaa: 80).
 
"Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (QS An Nahl: 44).
 
Kemudian dalam berqurban, syiar yang paling besar terkandung di dalamnya ialah bahwa ia sebagai millah (ajaran / agama) Ibrohim yang kita diperintahkan untuk mengikutinya. Allah berfirman (yang artinya), "Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (Lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang sholih. Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrohim seorang yang hanif’ dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." (QS An Nahl: 120-123).
 
Demikian jelaslah bagi siapa saja yang mengetahui dan memperhatikan ayat-ayat ini bahwa millahnya nabi Ibrohim adalah millah hanifiyyah yakni satu ajaran yang dibangun di atas landasan tauhid dan berpaling dari kesyirikan beribadah hanya kepada Allah saja dan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Hingga dengan ini beliau dijuluki sebagai seorang imam. Oleh karena itu, syiar yang besar dan pelajaran yang berharga dari ‘Iedul Qurban adalah tauhid. Yang dituntut seluruh kaum muslimin untuk menancapkan aqidah tauhid ini dalam jiwanya dan beramal dengan tuntutan-tuntutan kalimat tauhid laa ilaaha illallah tersebut. Karena ia kewajiban yang pertama dan terakhir dalam Islam. Ingatlah! Ketika Nabi Ibrohim berkata kepada bapaknya (yang artinya), "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaithon, sesungguhnya syaithon itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka kamu menjadi kawan bagi syaithon." (QS Maryam: 42-45). Demikianlah tauhid dan dakwah kepada tauhid menjadi syiar dan inti dakwahnya Nabi Ibrohim dan Nabi serta rasul-rasul lainnya.

Nabi Nuh ‘alaihis salam sebagai rasul yang pertama diutus, beliau berkata kepada kaumnya (yang artinya), "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang sangat menyedihkan." (QS Huud: 25-26).
 
Nabi Huud ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya (Aad) (yang artinya), "Hai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia." (QS Huud: 50).
 
Nabi Sholih ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya (Tsamud) (yang artinya), "Hai kaumku, sembahlah Allah! sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia." (QS Huud: 61).
 
Nabi Syu’aib berkata kepada kaumnya (Madyan) (yang artinya), "Hai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia." (QS Huud: 74).
 
Begitu juga dengan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kita kepada tauhid dan melarang dari berbuat syirik (yang artinya), "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudhorot kepadamu selain Allah. Sebab jika kamu berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS Yunus: 106).
 
Allah telah memperjelas lagi dalam ayat lain tentang tugas yang diemban para Rasul (yang artinya), "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut!’" (QS An Nahl: 36). "Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku. Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS Al Anbiyaa: 25).
 
Setelah kita mengetahui bahwa pelajaran yang berharga dari Iedul Qurban ialah tauhid, millahnya Nabi Ibrohim, satu hal lagi yang juga pelajaran penting bagi kita ialah kesabaran serta keteguhan Nabi Ibrohim dalam mendakwahkan dan membela aqidah tauhid. Allah berfirman (yang artinya), "Sesungguhnya telah ada suri tauladan bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari kekafiranmu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrohim kepada bapaknya: Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah. Ibrohim berkata: Ya Tuhan Kami, hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali." (QS Al Mumtahanah: 4).
 
"Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrohim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS Al Mumtahanah: 6).
 
Sungguh besar anugrah yang Allah berikan kepada kita berupa petunjuk agama yang lurus. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengabarkan nikmat yang Allah berikan padanya dari hidayah shirothol mustaqim millatu Ibrohim (yang artinya), "Katakanlah sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar, agama Ibrohim yang lurus, dan Ibrohim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik." (QS Al An’am: 161).
 
Bukan hanya itu saja, tetapi Allah juga muliakan para pengikut millahnya Ibrohim dan menghinakan orang-orang yang membencinya. Allah berfirman (yang artinya), "Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrohim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang sholih. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah’, Ibrohim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.’ " (QS Al Baqoroh: 130-131).

Dengan keistimewaan ‘Iedul Qurban ini hendaknya kita lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaqwaan. Allah berfirman (yang artinya), "Daging-daging (unta) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Allah, tetapi ketaqwaan darimu-lah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayahnya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al Hajj: 37).
 
Dan semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang menjunjung tinggi syiar-syiar Allah, "Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati." (QS Al Hajj: 32).
 
Di samping itu semoga kita juga orang-orang yang senantiasa mengamalkan firman Allah (yang artinya), "Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Rabbnya, maka hendaklah beramal dengan amalan yang sholih dan tidak menyekutukannya dalam beribadah kepadanya dengan sesuatu apapun." Wal ‘ilmu ‘indallah.

Walhamdulillahi robbil alamin.
 
sumber google.com 
posting by : www.asepkumaradewa.blogspot.com

Hari Raya Umat Islam


Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al Atsari
 
Definisi dan Makna Hari Raya Ied
 
Hari Raya ialah semua hari yang didalamnya terdapat sekumpulan orang. Adapun kata al ‘Id merupakan pecahan kata dari : ‘aada ya’uudu, yang memiliki arti : “seakan-akan mereka kembali kepadanya”. Dan ada yang mengatakan, bahwa pecahan katanya dari : al ‘aadah, yang artinya : “karena mereka membiasakannya.” Dan bentuk jamaknya : a’yaad.
Dikatakan : ‘ayyadal muslimun, artinya : “mereka menghadiri hari raya mereka.”

Ibnu A’rabi berkata,”Dikatakan al-‘Id itu, ‘Id (hari raya) karena kegiatan itu berulang setiap tahunnya dengan kegembiraan yang baru.” (Lisanul ‘Arab 3/319)

Berkata ‘al Allamah Ibnu ‘Abidin, “Dinamakannya ‘Id (hari raya) itu, karena pada diri ALLAH Ta’ala memiliki berbagai macam kebaikan atau aneka ragam kebaikan yang kembali kepada hamba-hambaNya di setiap harinya. Diantaranya : berbuka setelah dicegah dari makan, sedekah/zakat fitrah, menyempurnakan ibadah haji dengan Thawaf, ziarah, daging sembelihan dan yang lainnya, karena kebiasaan yang ada didalamnya terdapat keceriaan dan kegembiraan serta semangat. [1]

Rahmat Allah bagi Umat Islam dengan Dua Hari Raya (Idul Fithri dan Adha)
 
Dari Anas Radliallahu ‘anhu ia berkata : "Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah [2]. Maka beliau bersabda (yang artinya) : “Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu : hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri". (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad (3/103,178,235), Abu Daud (1134), An-Nasa’i (3/179) dan Al-Baghawi (1098).

Berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna : "Maksudnya : Karena hari Idul Fihtri dan hari raya Kurban ditetapkan dengan syariat Allah Ta’ala, merupakan pilihan Allah untuk mahluk-Nya dan karena keduanya mengikuti pelaksanaan dua rukun Islam yang agung yaitu Haji dan Puasa, serta didalamnya Allah mengampuni orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dan orang-orang yang berpuasa, dan Dia menebarkan rahmat-Nya kepada seluruh mahluk-Nya yang taat. Adapun hari Nairuz dan Mahrajan merupakan pilihan para pembesar pada masa itu. Penyebab ditentukannya hari itu sebagai hari raya buat mereka adalah karena pada kedua hari itu situasi kondisi, suhu udara dan selainnya dari keistimewaan yang akan sirna. Perbedaan antara dua keistimewaan antara Idul Fithri dan Idul Adha dengan hari Nairuz dan Mahrajan sangat jelas bagi siapa yang mau memperhatikannya". [Fathur Rabbani 6/119].
 
 
Footnote :
[1] Kegembiraan dan kenikmatan. Lihat Hasyiyah Ibnu ‘Abidin (2/165), ketahuilah wahai saudaraku sesama muslim – semoga ALLAH memberi taufik kepadaku dan kepadamu untuk selalu mentaatiNya – bahwa perayaan hari Raya yang disyariatkan ALLAH untuk hambaNya merupakan perkara yang telah diketahui/maklum dan ini adalah topik kitab yang ada di hadapan anda. Adapun di jaman ini, sesungguhnya perayaan yang diadakan hampir tidak dapat dibatasi jumlah di setiap negeri Islam, lebih-lebih selainnya. Sehingga anda akan jumpai perayaan itu diadakan untuk qubbah (bangunan yang dibangun di atas kuburan berbentuk kubah masjid – pent) dan kuburan, serta individu tertentu dan negeri serta selain itu yang merupakan perayaan yang tidak disyariatkan oleh ALLAH. Sehingga dijumpai pula di sebagian kaum muslimin yang berada di negeri India mereka mempunyai 144 hari raya setiap tahunnya. Lihat A’yaadul Islam (8).
[2] Yaitu hari Nairuz dan hari Mahrajan. Lihat "Aunul Ma’bud" (3/485) oleh Ath Thayib Al-Adhim Abadi (3/485).


(Dinukil dari "Ahkaamu Al’ Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah" Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali. Edisi Indonesia: "Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya" Penerbit Maktabah Salafy Press. Penerjemah ustadz Hannan Husein Bahannan)
 
Dari 2 risalah dengan judul asli:
Definisi dan Makna Hari Raya Ied
Rahmat Allah bagi Umat Islam dengan Dua Hari Raya (Idul Fithri dan Adha
www.asepkumaradewa.blogspot.com

Selasa, 13 September 2011

tentang keutamaan menuntut ilmu

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” [1]

Hadits yang mulia ini menunjukkan agungnya kedudukan ilmu agama dan keutamaan yang besar bagi orang yang mempelajarinya, sehingga Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhush Shalihin [2], pada pembahasan “Keutamaan Ilmu” mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang pertama.
Imam an-Nawawi berkata: “Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu (agama) dan keutamaan mempelajarinya, serta anjuran untuk menuntut ilmu.” [3]
Imam Ibnu Hajar al-’Asqalaani berkata: “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia, dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya.” [4]
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini adalah:
  1. Ilmu yang disebutkan keutamaannya dan dipuji oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah ilmu agama. [5]
  2. Salah satu ciri utama orang yang akan mendapatkan taufik dan kebaikan dari Allah Ta’ala  adalah dengan orang tersebut berusaha mempelajari dan memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam agama Islam. [6]
  3. Orang yang tidak memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu agama akan terhalangi untuk mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala. [7]
  4. Yang dimaksud dengan pemahaman agama dalam hadits ini adalah ilmu/pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang mewariskan amalan shaleh, karena ilmu yang tidak dibarengi dengan amalan shaleh bukanlah merupakan ciri kebaikan. [8]
  5. Memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar merupakan penuntun bagi manusia untuk mencapai derajat takwa kepada Allah Ta’ala. [9]
  6. Pemahaman yang benar tentang agama Islam hanyalah bersumber dari Allah semata, oleh karena itu hendaknya seorang muslim disamping giat menuntut ilmu, selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dianugerahkan pemahaman yang benar dalam agama. [10]
***
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A.
Artikel www.muslim.or.id
Footnote:
[1] HSR al-Bukhari (no. 2948) dan Muslim (no. 1037).
[2] 2/463- Bahjatun Naazhiriin.
[3] Syarah Shahih Muslim (7/128).
[4] Fathul Baari (1/165).
[5] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaiman dalam kitab al-Ilmu (hal. 9).
[6] Lihat kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[7] Lihat kitab Fathul Baari (1/165) dan Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[8] Lihat kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[9] Lihat kitab Syarah Shahih Muslim (7/128) dan Faidhul Qadiir (3/510).
[10] Lihat Bahjatun Naazhiriin (2/463).
1. UTHLUBUL 'ILMA WALAU BISHSHIIN
"Tuntutlah ilmu walau di negeri cina"
Sumber 1 (Qosim Koho)
Diriwayatkan oleh Ibnu 'Adiy dalam kitabnya juz II halaman 207, dan oleh Abu Nu'aim dalam kitab  Akhbaaru Ashbahaan Juz II halaman 106, oleh Al-Khatiib dalam kitab Taarikhul Baghdaadiy
  1. Hadis ini BATHIL. Bukan ucapan Rasulullah SAW
  2. Semua riwayat melalui jalan : Al-Hasan bin 'Athiyah. Tetapi dalam sanadnya ada rawi yang bernama : Abu 'Aatikah. Dia termasuk rawi yang MATRUK (hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang tertuduh dusta baik dalam meriwayatkan hadis ataupun selainnya. Hadis matruk ini seburuk-buruk hadis dla'if 4)
  3. Rawi inilah yang meriwayatkan dengan tambahan WALAU BISHSHIIN
  4. Dilain riwayat ada pula tambahan FARIIDHATUN 'ALAA KULLI MUSLIMIN. Dalam sanadnya ada rawi yang sifat dan keadaannya mendekati derajat dlaif.
  5. Imam Bukhari mengatakan : "Abu 'Atikah yang seorang rawi yang suka meriwayatkan hadis hadis MUNKAR"  (sesuatu hadis yang dilawankan dengan hadis lain yang lebih kuat ingatan perawinya. Riwayat yang lebih kuat ingatan perawinya dinamai "MAHFUDH" dan yang menjadi lawannya dinamai "SYADZ". Jika yang SYADZ ini mengandung kelemahan pula, maka dinamai MUNKAR. Sedang yang MAHFUDZ dinamai MA'RUF 4)
  6. Imam Nasaa-i mengatakan : "Dia adalah rawi yang LAISA BITSIQAH (tidak dapat dipercaya)
 Sumber 2 (Prof. KH. Ali Mustafa Ya’kub, MA)
 RAWI dan SANAD
Hadis ini diriwayatkan Ibn ‘Adiy (w356H), Abu Nu’aim (w430H), al-Khatib al-Baghdadi (w463H), Ibn ‘Abd al-Barr (w463H), Ibn Hibban (w254H) dll. Semua menerima hadis tersebut dari al-Hasan bin ‘Atiyah, dari Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman, dari Anas bin Malik, (dari Nabi SAW).
 KUALITAS HADIS
  1. Ibnu Hibban mengatakan yang meriwayatkan hadis tsb mengatakan  hadis ini bathil la ashla lahu (Batil, palsu, tidak ada dasarnya)
  2. Al-Sakhawi mengulang kembali pernyataan Ibnu Hibban dalam kitabnya.
  3. Sumber kepalsuan hadis adalah rawi  Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman (dalam sumber lain tertulis : Salman).
  4. al-Uqaili, al-Bukhari, al-Nasai dan Abu Hatim sepakat bahwa Abu 'Atikah Tarif bin Sulaiman  tidak memiliki kredibitas  sebagai  rawi hadis.
  5. al Sulaimani mengatakan Abu 'Atikah dikenal sebagai Pemalsu Hadis
  6. Imam Ahmad tidak mengakui ini sebagai Hadis Nabi.
 RIWAYAT-RIWAYAT LAIN
Hadis tersebut ditulis kembali oleh Ibn al-Jauzi dalam kitabnya al-Maudhua'at (Hadis-Hadis Palsu). Kemudian al Suyuti dalam kitabnya al-La'ali al-Mashnu'ah fi al_Ahadits al-Maudhu'ah (sebuah kitab ringkasan dari kitab Ibn al-Juazi ditambah komentar dan tambahan), mengatakan bahwa disamping sanad di atas, hadis tersebut memiliki tiga sanad lain, sbb :
  1. Riwayat Ibn  Abd al-Barr dan al-Baihaqi dalam kitab Syu'ab al-Iman, dengan sanad : Ahmad bin 'Abdullah – Maslamah bin al-Qasim – Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Asqalani – 'Ubaidah bin Muhammad al-Firyabi – Sufyan bin 'Uyainah – al-Zuhri – Anas bin Malik – (Nabi SAW).
  2. Riwayat Ibn Karram dalam kitab al-Mizan (Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal) karya al-Dzahabi, dengan sanad : Ibn Karram – Ahmad bin Abdullah al-Juwaibari – al-Fadl bin Musa – Muhammad bin 'Amir – Abu Salamah – Abu Hurairah – (Nabi SAW)
  3. Riwayat Ibn Hajar al-'Asqalani dalam kitabnya al-Lisan (Lisan al-Mizan) dengan riwayat sendiri yang berasal dari Ibrahim al-Nakha'i – Anas bin Malik. Ibrahim berkata : "Saya mendengar Hadis itu dari Anas bin Malik.
 Kualitas ketiga sanad itu sbb :
Sanad ke-1, menurut Imam al-Dzahabi : "Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Asqalani adalah KADZDZAB (PENDUSTA)"
Sanad ke-2,  Ahmad bin Abdullah al-Juwaibari,  adalah seorang PEMALSU HADIS.
Sanad ke-3, Ibn Hajar al-Asqalani yang meriwayatkan hadis tersebut mengatakan " Ibrahim al-Nakha'i tidak pernah mendengar apa-apa dari Anas bin Malik". Karena itu al-Nakhai adalah seorang PEMBOHONG.
PEMBAHASAN LEBIH LANJUT
A). Pembicaraan ketiga sanad
  1. Ketiga sanad yang disebutkan al-Suyuti tetap berstatus maudhu' atau Palsu.
  2. Syeikh Muhammad Nashir al-Din al-Albani mengatakan bahwa catatan al- Suyuti itu Laisa bi syai'in (tidak ada artinya)
  3. Hadis yang dlaiif apabila diriwayatkan dengan sanad lain yang juga dlaiif, maka dapat meningkat statusnya menjadi Hadis hasan li ghairih. Tetapi dengan catatan : kelemahannya bukan karena rawinya seorang yang fasiq (berbuat kemaksiatan) atau ia seorang pendusta. Sementara rawi hadis tersebut adalah orang pendusta bahkan pemalsu hadis.
  4. Prof. Dr. Nur al-Din 'Itr berpendapat hadis tsb memang tidak dapat meningkat statusnya dari dlaiif  menjadi hasan lighairih. Beliau juga tidak memastikan hadis tersebut palsu. Beliau hanya menetapkan hadis tersebut sangat lemah (DLAIIF SYADID). Sayangnya beliau tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan dlaiif syadid itu, sebab hadis palsu adalah hadis yang paling lemah.
  5. Dalam disiplin ilmu hadis, hadis yang sangat perah kelemahannya, seperti HADIS MAUDHU, HADIS MATRUK dan HADIS MUNKAR tidak dapat dijadikan sebagai dalil apapun, bahkan walaupun untuk dalil amal-amal kebajikan (fadhail al-a'mal). Sebab salah satu syarat dapat digunakannya hadis dlaiif untuk dalil-dalil fadhail al-a'mal adalah kedhaifannya tidak parah.
  6. Meskipun Prof. Dr. Nur al-Din  'Itr berbeda pendapat dengan Syeikh Nashir al-Din al-Albani dan ibn al-Jauzi dalam menilai hadis tersebut, namun dalam praktek mereka sepakat bahwa hadis tersebut tidak dapat digunakan untuk dalil apa pun, baik untuk akidah, syariah maupun akhlaq dan fadhail al-a'mal.
 B). Pembicaraan perihal Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Asqalani
  1. Imam al-Dzhabi menyebut Ya’qub  sebagai kadzdzab (pendusta)
  2. bn Hajar al-Asqalani menyampaikan bhw Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Asqalani disebut-sebut oleh Maslamah bin al-Qasim dalam kitabnyaa al-Shilah
  3. Maslamah menjelaskan bahwa Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Asqalani menjadi pembicaraan para guru hadis. Ada yang menilai majruh (inkredibel), ada yang menilai tsiqah (kredibel)
  4. Maslamah sendiri menilai bahwa Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Asqalani “shalih wa ja’iz al-Hadits (baik hadisnya)”
  5. Komentar Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. (2)  :
  • Rawi Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Asqalani termasuk rawi yang kontroversial.
  • Dengan demikian tidak mengubah status hadis “Tuntutlah ilmu walau sampai negeri cina” menjadi shahih.
  • Dalam ilmu al-Jarh wa Ta’dil (evaluasi negaaif dan positif atas rawi-rawi hadis) terdapat kaidah apabila seorang rawi  dinilai negatif  (jarh) dan positif (ta’dil) oleh para ulama kritikus hadis, maka yang diunggulkan adalah pendapat yang menilai negatif apabila penilaian itu dijelaskan sebab-sebabnya.
  • Dengan demikian Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Asqalani tetap sebagai rawi yang MAJRUH (inkredibel)

2. THOLABUL 'ILMI FARIIDHOTUN 'ALA KULLI MUSLIMIN
"Menuntut ilmu itu diwajibkan atas tiap-tiap orang muslim"
Sumber 1 (Qosim Koho)
Diriwayatkan dari jalan Anas, tetapi semua riwayat ini ada Illah yang sangat jelek. (Muhammad Thahir, Kitab Tadzkiratul Maudluu'aat hal : 17)
  1. Hadis ini DLA'IIF (lemah)
  2. Imam Baihaqy mengatakan "Matan (isi) riwayat ini sangat terkenal dimana- mana tempat, tetapi sanadnya Dla'iif".
  3. Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalan tetapi semuanya Dla'iif.
  4. Imam Ahmad, Ibnu Rahawaih, Abi 'Aly an-Naisabuury, Imam Hakim, Ibnush-Shalaah, mengatakan : "Tidak ada satupun hadis yang shahih dalam bab menuntut ilmu ini"
  5. Al-'Iraaqy mengatakan : Para ulama hadis ada yang mensahihkan riwayat-riwayat tersebut.
  6. Al-Manaawy mengatakan : Riwayat-riwayat tersebut bila dikumpulkan hanya sampai derajat HASAN saja.
  7. Ada pula tambahan kalimat WAMUSLIMATIN = atas perempuan yang Muslim, yang dimasukkan oleh sebahagian pengarang dalam lanjutan riwayat tersebut, akan tetapi tambahan tersebut tidak ada dasarnya sama sekali.
  8. Hadis ini pula diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad dan Imam Baihaqy, tetapi juga termasuk riwayat yang DLA'IIF.
  9. Ibnu 'Adiy dan Imam Baihaqy juga meriwayatkan dengan lafadh yang lain, yaitu : UTHLUBUL 'ILMA WALAU BISHSHIIN "Tuntutlah ilmu walau di negeri cina". Sanadnya DLA'IIF.
  10. Dalam kitab Maqaashidul Hasanah ada tambahan : FAINNA THOLABAL 'ILMI FARIDLOTUN 'ALA KULLI MUSLIMIN.  Jadi kalau dirangkai : "Tuntutlah ilmu itu walaupun sampai negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu diwajibkan atas tiap-tiap orang Muslim.
  11. Sanad yang ada tambahan ini pun dla'iif. Bahkan Ibnu Hibban mengatakan tambahan ini Bathil dan tidak ada asalnya.

Sumber 2 (Prof. KH. Ali Mustafa Ya’kub, MA)
  1. Dengan mengambil sumber dari Jalal al-Din al-Suyuti, al-Jami’ al-Shaghir, Dar al-Fikr, Beiirut, 1401H/1981 M, II/131
  2. Prof Ali menyebutkan bahwa hadis “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim” merupakan Hadis shahih yang antara  diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman, Imam  al_Thabarani dalam kitab al-Mu’jam al-Shagir, dan al-Mu’jam al-Ausath,  al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad dan lain-lain.

KOMENTAR PRIBADI
Khusus berkenaan dengan hadis kedua “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim” dalam bahasan ini, sejauh yang bisa saya pahami (karena saya bukan ahli hadis).
  1. Saya tidak mengerti mengapa kesimpulan Qosim Koho berbeda  dengan Prof. Ali.
  2. Saya HUSNUDHON kepada beliau-beliau, dan ber-asumsi masing-masing hanya memiliki sumber yang berbeda.
  3. Dengan menggunakan kaidah dalam ilmu al-Jarh wa Ta’dil apabila seorang rawi  dinilai negatif  (jarh) dan positif (ta’dil) oleh para ulama kritikus hadis, maka yang diunggulkan adalah pendapat yang menilai negatif apabila penilaian itu dijelaskan sebab-sebabnya, yang sudah disebut Prof. Ali.
  4. Maka insyaAllah, saya menganggap bahwa hadis “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim”  itu cacat secara sanad, tidak bisa digunakan sebagai dalil bahwa hadis tersebut adalah sabda Nabi SAW.
  5. Namun matan (isi) hadis tersebut dapat diterima sejauh ”Ilmu” yang dimaksud adalah “ilmu agama” yaitu Al-Quran, dengan tetap tidak menyandarkan bahwa hadis ini berasal dari Nabi SAW.
  6. Kewajiban orang beriman dalam mempelajari ilmu agama justru menjadi tidak terbantahkan bila menggunakan ayat Al-Quran.
  7. Al-Quran adalah HUDAL LIL MUTTAQIIN. Sebagai petunjuk, bila tidak dipelajari maka fungsi petunjuk menjadi tidak bermakna. Pada gilirannya, mereka  yang tidak mau mempelajari isi Al-Quran akan jatuh kepada mengingkari sebagian rukun iman, yaitu percaya kepada kitab-kitab-Nya.
  8. Masih banyak ayat2 lain yang bermakna belajar agama menjadi wajib. Kita disuruh memperhatikan ayat-ayat Allah (Al-Quran) agar mendapat pelajaran (Shaad 38:29)
  9. Karena itu saya sependapat dengan KH. Mukhtar Adam (3) yang saya ringkas dibawah ini.
KH. MUKHTAR ADAM (3)
Beliau membahas surat Al-QASHSHASH [28:85] Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur'an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.  Katakanlah: "Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata".
 Ayat ini menjadi dalil bagi para ulama, bahwa mempelajari Al-Quran itu fardhu ‘ain.
Tentang fardhu ‘ain., pertama, dalam AQ ada 16 kali fardhu ain yang tidak bisa diwakilkan. Kedua, fardhu ‘ain dalam mengajarkan AQ. Ketiga, fardhu ‘ain dalam menegakkan AQ. Maka satu diantara kewajiban pokok kaum muslim, terutama generasi muda, adalah mempelajari ‘Ulumul-Qur’an yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.
Al-Quran sebagai al-Huda wajib kita pelajari karena tanpa memahami kepemimpinannya daripada AQ, kita akan salah ilmunya, akan salah imannya.
Dalam surat al-Hajj [22:54] “dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”
Kalau kita perhatikan susunan ayatnya digambarkan bahwa, ilmulah yang melahirkan iman, iman melahirkan amal. Kalau ilmunya dari AQ, imannya ditempa AQ, dan amalnya disetir AQ. Kalau ilmunya salah, maka amalnya pun juga pasti salah. Itu sebabnya kenapa AQ sebagai al-Huda lebih menunjukkan tentang fardhu ‘ainnya mempelajari. Tidak bisa setengah-setengah saja. Tidak bisa diwakilkan.
KESIMPULAN SAYA
UTHLUBUL 'ILMA WALAU BISHSHIIN FAINNA THOLABAL ‘ILMI FARIIDHOTUN ‘ALA KULLI MUSLIMIN
"Tuntutlah ilmu walau di negeri cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim”
“Hadis” ini selain populer digunakan untuk mengukuhkan kewajiban dalam mencari ilmu agama juga populer digunakan untuk mengukuhkan bahwa ajaran islam mewajibkan mencari ilmu dunia. Kalau perlu belajar kepada orang-orang cina.
Ada pertanyaan yang menggantung, mengapa hadis palsu ini memilih negeri cina? Apa ada kaitannya dengan perilaku cina secara umum?
Merekalah yang sukses dalam ekonomi, perdagangan. Mengapa sukses, karena mereka fokus kepada memenuhi hidup dengan kenikmatan duniawi dan tetap fokus pada budaya, tradisi dan falsafatnya. Ini adalah gambaran umum ttg cina, menurut saya. Mencari ilmu ke negeri cina, padahal disana “tidak ada” ilmu AQ. “Agama” cina berasal dari filsafat2 dan budaya tradisionil cina.
Kong Hu Cu atau Konfusius, terkadang sering hanya disebut Kongcu  adalah seorang guru atau orang bijak yang terkenal dan juga filsuf sosial Tiongkok. Filsafahnya mementingkan moralitas pribadi dan pemerintahan, dan menjadi populer karena asasnya yang kuat pada sifat-sifat tradisonal Tionghoa. Oleh para pemeluk agama Kong Hu Cu, ia diakui sebagai nabi. (5)
Kepercayaan tradisional cina sebenarnya bukanlah suatu agama tertentu seperti yang menjadi kesalahpahaman dan salah kaprah mayoritas pemeluk agama lainnya. Kepercayaan di dalam bahasa Mandarin disebut sebagai Xin4 Yang3, dan agama disebut sebagai Zong1 Jiau4. Ada orang yang menyebut kepercayaan tradisional ini sebagai Tri-Dharma (Sam Kau = hokkian, Shan1 Jiau4 = mandarin) yaitu gabungan antara Taoisme, Konfusianisme dan Buddhisme. Ada pula yang mengklaim kepercayaan tradisional ini sebagai agama Khonghucu.
Kepercayaan tradisional adalah hal yang telah ada jauh sebelum agama eksis dan merupakan bagian dari budaya (sinkretisme budaya), malah mempengaruhi bentuk dan transformasi ketiga agama tadi dalam batas2 tertentu. Di zaman dulu, ada atau tidaknya agama leluhur orang Tionghoa, mereka tetap akan memegang teguh kepercayaan tradisional ini. (6)

Senin, 12 September 2011

al-gazaliyah dalam pembangunan nya

   Berdiri semenjak saya kecil kurang tau pasti tahun berapa karna saya menginjak kan kaki ketanah itu sudah ada, dulu bernama MUSHOLA AL_BAROKAH, sekarang stelah memiliki siup dan surat2 resmi dari instansi pemerintah beganti nama menjadi , PONPRES  AL-GAZALIAH   namun sayang sekali ,,, tangan para donatur ga bisa mnggapai nya entah dengan bebagai alasan apa, sampai sulit bagi kami mendirikan bangunan untuk calon2 pemimpin negara belajar ahlak, 
     yg semestinya tempat penggemblengan ahlak lah yg di bantu ,,, kecurigaan pemerinyah akan pesantren sebagai basis teroris, mungkin itu yg menyulitkan kami, padahal kami hanya membina anak2 untuk memiliki ahlak yg baik ., moral yg baik,, pintar tanpa oral dan ahlak yg baik cuma pinter nipu, karna apa ,, karna ga tau mana yg haram dan mana yg halal ,, asal perut kenyang dan hati puas, 
apa generasi yg demikian yg akan di bentuk ,,, itu bukan tujuan kami
       tujuan kami menjadikan anak bangsa ini yg bermoral yg beriman bisa menjadi suritauladan bagi anak2 yg lain ,, dan membanggakan orang tua.   bila di lihat dari lokasi statistik , seharus nya kami tidak lah sulit untuk mendirikan sebuah bangunan tersebut , namun entah siapa yg membutakan pemimpin bangsa ini hingga sulit melihat apa yg kami butuhkan,    mungkin anda bertanya ,, di manakah itu,,
bila di tarik lurus kami  berada kurang lebih 2 rol benang kayu yg sering di pakai ibu2 menjahit dari kediaman presiden sby,    saya mendengar pidatoo presiden waktu berbuka puasa bersama , beliau mengatakan ingin menjadikan desa ini menjadi desa contoh untuk desa2 yg lain , desa yg madani , bersih lingkungan ahlak nya,. masayarakat nya yg memiliki ahlak yg baik,  dan semua itu membutuhkan dan, kita cari dari dana yg halal,   saya akan sumbang,,, entahlah siapa yg di sumbang.   yg di telen sama najarudin mungkin lebih dari cukup buat kami.  
     untuk mendrikan bangunan kami yg terbengkalai ini, bila bukan sama pemimpin pada siapa kami meminta, bila bukan sama pemimpin pada siapa kami percaya,, bila bukan pada pemimpin pada siapa kami berharap,,, yah kami harus berdoa ,,pada allah kami meminta... kami meminta uluran tangan para dermawan ,,
 

Rabu, 07 September 2011

hadis tentang cinta

Cinta yang memberikan cahaya
“Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah itu ada beberapa orang yang bukan nabi dan syuhada menginginkan keadaan seperti mereka, karena kedudukannya disisi Allah. Sahabat bertanya :
“Ya Rasulullah, tolong kami beritahu siapa mereka ? Rasulullah SAW. Menjawab : Mereka adalah satu kaum yang cinta mencintai dengan ruh Allah tanpa ada hubungan sanak saudara, kerabat diantara mereka serta tidak ada hubungan harta benda yang ada pada mereka. Maka, demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa dikala orang lain takut, dan mereka tidak berduka cita dikala orang lain berduka cita” (H.R. Abu Daud)

Cinta yang menggugurkan dosa
“Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu saudaranya yang muslim, lalu ia memegang tangannya (berjabat tangan) gugurlah dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun dan pohon kering jika ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka berdua, meski sebanyak buih dilaut” (H.R. Tabrani)

Cinta yang memberikan keteduhan
“Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku” (H.R. Muslim)

Cinta yang berbalas cinta
“Allah swt berfirman, “pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta mencintai karena Aku, saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku” (Hadits Qudsi)

Karena cinta, dicintai-Nya
“Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemaninya malaikat berkata,
“Kau mau kemana ?”
Ia menjawab, “Aku ingin mengujungi saudaraku di desa ini”
Malaikat terus bertanya, “Apakah kamu akan memberikan sesuatu pada saudaramu ?”
Ia menjawab, “Tidak ada, melainkan hanya aku mencintainya karena Allah SWT”
Malaikat berkata, “Sesungguhnya aku diutus Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang tersebut karena-Nya” (H.R. Muslim)
Tiga cinta yang manis
Tiga perkara, yang barang siapa memilikinya, ia dapat merasakan manisnya iman, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya, cinta kepada seseorang karena Allah dan membenci kekafiran sebagaimana ia tidak mau dicampakan ke dalam api neraka” (H.R. Bukhari-Muslim)

keutamaan menuntut ilmu

Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Qur’an Al mujadalah 11)
Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)
Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga (Shahih Al jami)
Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syorga. (HR. Muslim).
“Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”(Bukhari)
Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia berada di jalan Alloh sampai dia kembali (Shahih Tirmidzi)
Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR. Ath-Thabrani)
Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Qur’an dan yang mengajarkannya (HR bukhari )
Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )
Siapa yang Alloh kehendaki menjadi baik maka Alloh akan memberikannya pemahaman terhadap Agama (Sahih Ibnu Majah)
Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami)
Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Nabi saw bersabda, Tidak boleh iri hati kecuali pada dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberi harta oleh Allah lalu harta itu dikuasakan penggunaannya dalam kebenaran, dan seorang laki-laki diberi hikmah oleh Allah di mana ia memutuskan perkara dan mengajar dengannya.(Bukhari)
Termasuk mengagungkan Allah ialah menghormati (memuliakan) ilmu, para ulama, orang tua yang muslim dan para pengemban Al Qur’an dan ahlinya, serta penguasa yang adil. (HR. Abu Dawud dan Aththusi)
Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan aka dilipat gandakan sepuluh, saya tidak mengatakan ,”Alif,lam,mim” satu huruf , tetapi alif satu huruf , lam satu huruf , dan mim satu huruf,(HR Bukhori)
Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis riwayat Abu Musa ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Perumpamaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam mengutusku untuk menyampaikan petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan yang membasahi bumi. Sebagian tanah bumi tersebut ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumputan dan sebagian lagi berupa tanah-tanah tandus yang tidak dapat menyerap air lalu Allah memberikan manfaatnya kepada manusia sehingga mereka dapat meminum darinya, memberi minum dan menggembalakan ternaknya di tempat itu. Yang lain menimpa tanah datar yang gundul yang tidak dapat menyerap air dan menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu agama Allah dan memanfaatkannya sesuai ajaran yang Allah utus kepadaku di mana dia tahu dan mau mengajarkannya. Dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang karenanya aku diutus. (Shahih Muslim No.4232)
Abu Musa mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Perumpamaan apa yang diutuskan Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gembur yang dapat menerima air (dan dalam riwayat yang mu’allaq disebutkan bahwa di antaranya ada bagian yang dapat menerima air), lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak. Daripadanya ada yang keras dapat menahan air dan dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia lalu mereka minum, menyiram, dan bertani. Air hujan itu mengenai kelompok lain yaitu tanah licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan apa yang diutuskan kepadaku bermanfaat baginya. Ia pandai dan mengajar. Juga perumpamaan orang yang tidak menghiraukan hal itu, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah yang saya diutus dengannya.” (Bukhari)
Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka. (HR. Abu Dawud)
Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)
Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)
Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa seorang alim. Dengan demikian orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (Mutafaq’alaih)
Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na’im)
Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)
“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”
* Telah berkata al-Baihaqy di kitabnya al-Madkhal (hal. 242) dan di kitabnya Syu’abul Iman (4/291 dan ini lafadznya), “Hadits ini matannya masyhur sedangkan isnadnya dla’if. Dan telah diriwayatkan dari beberapa jalan (sanad) yang semuanya dla’if.”
Wallahu a’lam.

Kamis, 02 Juni 2011

ter jerat terpenjara

         sepi mencekam jiwa terkungkung saat terperosok ke jurang belanggu yg ter amat kuat, saat raga lagi tak memiliki rasa saat jiwa tak lagi memiliki arah yg harus di tempuh , dunia ohhh dunia anggap orang hanya sebesar daun kelor, aku rasa sangat sempit menyesakan dada , mengapa yang di cari cuma 2 hal, apa ga punya hati dan naluri lagi, saat aku bertanya pada dunia . wahai bumi yg kupijak langit yg jadi atapku dimana rasa keadilan ini akan ada,, dimana mereka hanya melihat memandang dari sisi kebendaan yg tiada ujung pangkal nya. dan mereka puas dengan satu kepuasan sex yg tak pernah ada habis nya. apa yg aku cari , aku pun tidak mengerti, semua apa yg aku lakukan di matanya salah, semua yg aku perbuat di matanya salah, semua yg aku usahakan di matanya salah, salah dan salah, mereka melihatku laksana boneka yg ada di genggaman yg siap di mainkan layak nya mainan anak kecil yg setelah bosan di buang di camakan di masukan dalam dus di tumpuk dengan sampah2 yg berbau tak sedap
       rintih kebencian menyesakan dada ,, rasa yg dulu begitu di banggakan perlahan hilang seiring dengan pendapat orang lain ,, ada yg berkata,, apa yg kamu cari,, apa yg kurang, apa mau kamu, apa seperti ini,,, saat aku katakan mereka mengerutkan dahi,,, apa tidak salah ,, apa kamu sudah buta, apa kamu ga punya pikiran apa kamu ini ga waras,, 
     mereka memandang dengan satu sisi , kebendaan yg mereka cari , aku ibarat mesin yg bobrok yg mogok2an yg ga bisa lagi berlari membawa mereka menuju kepuasan ,, aku ibarat mesian pencetak yg sudah kotor dengan kotoran debu yg melekat , aku ibarat mesin pencetak yg sudah ga terpakai lagi, aku ibarat mesin butut yg tersingkirkan dengan mesin2 baru yg memiliki banyak kemampuan 
    aku adalah aku, saat tanah ini tak lagi kupijak,, saat kata2 ini tertulis saat kebencian ini memuncak aku ingin meninggalkan semuanya dengan satu kalimat. AKU LELAH.  
untukmu yg berdiri di sana ,, sombongmu bukan tanpa akhir, kepuasan mu bukan tanpa ujung, kekuatan mu bkan tanpa lemah, kehendakmu bukan kehendak nya, ada yang bisa kau genggam ada yang tak bisa kau raih. kau tidak akan dapat apa2 dariku. 
    aku telah memilihnya jauh sebelum kamu memaksaku. jangan lagi kau cari aku , jangan lagi kau susul aku ke tempatnya , karna aku ga akan ada di sana dan aku ga akan ada di sini. aku lepaskan semua masalah dengan mu. aku lelah dan ingin merasakan ketenangan. 
dan buat seseorang di sana , jangan tutup pintu rapat2 aku akan mengetuk nya dengan senyum den harapan.,,,,,,,,,,...........................................................................................................!

Selasa, 03 Mei 2011

pandangan pribadi tentang dunia maya

        dewasa ini bukan hal yang luar biasa perkembangan teknologi merambah berbagai lapisan masyarakat baik itu di perkotaan maupun di pedesaan terpencil sekali pun . bahkan hal itu pihak pemerintah tidak bisa lagi mencegah nya. perusahaan perusahaan penyedia layanan komunikasi seperti oprator-oprator selular makin gencar menyediakan pasilitas untuk keperluan sarana komunikasi dan hiburan di lengkapi dengan pilihan pilihan tarip yang beraneka ragam . dewasa ini marak sekali dengan yang nama nya facebook.com sebuah situs yang sangat mudah di akses bahkan untuk orang awan tentang dunia teknologi sekali pun , 
      banyak memang sisi positip nya dan tidak sedikit sisi negatip nya

Sabtu, 12 Maret 2011

   Ya allah engkau yang maha mengetahui segala tentang umatmu ya allah engkau yang maha tau semua segala alam dan penghuninya ya allah engkau yang maha segala maha, ya allah bimbing hati ini ke jalanmu ya allah jangan engkau biarkan hamba yang lemah ini lemah pula di sisi insan mu yang lain hanya itu pinta hamba   ... tunjuk kan pada hamba jalan yang baik dan permudah jalan hamba. ya allah hamba serahkan semua urusan dunia ini pada hamba.. ampuni orang-orang yang telah menjolimi pisik hamba yang menjolimi perasaan hamba bimbing hatinya ke jalan yang engkau ridoi hanya itu yang bisa hamba harapkan ,, engkau maha pemaaf engkau maha pengampun engaku maha bijaksana kuatkan hamba untuk memaafkan seperti engkau mengampuni dosa orang2 yang bertaubat di hadapan mu ya allah
  

sebuah pencapaian tingkat kedewasaan berpikir yang hakiki

               Apa yang di maksud dengan dewasa secara penuh dan apa yang di cari dalam dunia ini selain dari ridonya allah dan apa tujuan akhir hidup kita........ ada yang mengerti ada juga yang tidak .. namun kini aku bisa mengerti makna hidup yang sesungguhnya ... aku di lahirkan sebagai manusia yang di karuniai akal dan pikiran dan perasaan yang kuat . dan aku bisa mengerti apa yang sedang aku lakukan sekarang. namun aku tidak mengerti apa yang terjadi diluaran sana dengan seseorang yang yang aku sayangi. ada apa dan mengapa.............?
     mungkin bila di lihat dari sisi ego , aku memang memiliki ego yang sangat besar dan itu di karnakan aku ingin menata hidupku lebih baik dengan nya. aku ga mengerti entah apa yang ia cari entah apa yang ia buru entah siapa yang telah berperan dalam dirinya hingga aku merasakan hal yang berbeda dari nya , entah lah ,, mudah2an semua pengorbananku ga akan jadi sia-sia di kemudian hari. banyak hal ganjil yang terjadi seolah ada sesuatu yang sedang di tutupi mulai dari sisi komunikasi aku rasakan ada perbedaan dan mulai terasa di batasi. aku bertanya pada oprator selular , entah oprator yang berbohong atau siapa yang brbohong aku ga mengerti di dunia kominikasi seperti ini aku bisa di bilang bodoh dan sangat tolol mungkin. aku ga pernah lagi dapat kabar pamit ga pernah lagi dapat ucapan selamat pagi siang sore maupun malam,, bila aku ga kasi kabar lebih dulu ia mungkin sibuk dengan pekerjaan nya hingga tidak sempat untuk mengetik ,, met pg,   aku bisa maklumi hal itu,, itu hak ia,
   yang aku harapkan sekarang moga semua pengorbanan  ku tidak jadi percuma , dan sedikit ada penghargaan dari nya
dan yang aku rasakan masih ada keraguan dalam dirinya mengenai aku entah dimana rasa ragu itu timbul aku ga mengerti huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh tuhan bimbing aku menuju jalan mu 
wahai sahabat pernahkah kalian mengalami hal yang aku tulis di ini hahhahaaaaa just kiding aja deh

Kamis, 10 Maret 2011

pencapaian ketanangan jiwa

        Asa itu ada ketika keyakinan itu mencapai puncak nya keraguan itu hilang seiring dengan keyakinan yang dirasakan begitu sempurna apa yang engkau berikan ...... jangan salahkan hati ini bila begitu kuat merasakan apa yang terjadi pada jiwamu... kadang gundah kurasa bila ada yang ingin menyentuh mu batinku begitu kuat merasakan nya 
hingga bergetar sekujur tubuhku ..... makin hari makin aku rasakan kekuatan itu datang menerpa hati dan jiwaku kekuatan kasih sayang mu ,, 
     yang kita bahas di tiap komunikasi bukan lagi curahan sayang namun terpokus pada masa depan yang mulai di konsep dengan konsep yang sebaik baiknya bukan tidak mungkin bila allah mengijinkan .... baitulah mekah adalah tujuan yang ingin di capai segenap dengan keyakinan diri dan usaha yang sesuai dengan syariat yang baik
     
     belajar mengetahui seberapa besar harapan orang lain pada kita.....sedikit diam namun tetap pada pendirian yang teguh dengan memegang keyakinan bahwa tidak ada yang lain......... belajar memaklumi dan menghormati waktu dan saat bersama orang terdekat .... ada baik nya juga bila kita sadar diri .... tentang apa yang telah kita lakukan pada orang lain yang baru separuh setatus kita dapatkan ,,, di sini memang terasa sedikit sakit mungkin ini salah satu untuk mencapai tingkat kedewasaan yang tinggi, hmmmmmmmmmmmm entah lah

Senin, 07 Maret 2011

Artikel Buletin An-Nur :
Beberapa Catatan Tentang Ajaran Sufi
senin 07 maret 2011
Nama dan ajaran Sufisme tidak pernah dikenal atau ada pada masa kehidupan Rasul
Shallallaahu 'alaihi wa Salam, para shahabat dan Tabi'in. kemudian setelah itu muncul
sekelompok orang zuhud yang mengenakan pakaian sangat sederhana yang disebut
dengan shuf (kulit domba) dan dari situlah awal penamaan sufi. Ada juga pendapat yang
mengatakan bahwa sufi berasal dari kata sufiya yang dalam buku-buku falsafah Yunani
diartikan dengan hikmah.
Yang jelas munculnya nama baru ini ternyata membawa dampak bagi kaum muslimin,
dimana akhirnya ajaran Sufi ini pecah menjadi sekian banyak aliran (tharikat) dan sufi
yang berkembang sekarang ini lebih banyak kebid'ahan dan pemyimpangannya dibanding
pendahulunya. Berikut ini penjelasan syaikh Muhammad bin Jamil Zainu tentang
beberapa pokok ajaran sufi beserta tinjauannya dari pandangan Al Qur'an dan Sunnah.
Ajaran sufisme memiliki tharikat yang sangat banyak, masing-masing mengklaim
bahwa tharikatnya yang paling benar. Padahal Al Qur'an melarang itu semua
sebagaimana dalam firman Allah, artinya:
"Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu
orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada
golongan mereka." (QS. Ar Rum :31-32)
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam juga menjelaskan bahwa tariqah atau jalan
yang lurus hanyalah satu, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Ibnu Mas'ud.
Ajaran sufisme membolehkan berdoa kepada selain Allah, baik itu nabi, para wali
yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Diantara mereka ketika
beristighatsah ada yang mengucapkan: "Ya Syaikh Abdul Qadir Jailani, Ya Rifai
atau ya Nabi kepadamulah kami bersandar dan minta pertolongan". Ini menyalahi
firman Allah yang artinya: "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak
memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah;
sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau
begitu termasuk orang-orang yang zalim". (QS. 10:106)
Qur'an mengetahui bahwa yang mengatur semua urusan adalah Allah.
Sebagian penganut sufisme meyakini wihdatul wujud (alam adalah satu kesatuan sebagai wujud Rabb), ittihad atau hulul (bersatunya hamba dengan rabb) sehingga tidak ada beda antara khaliq dan makhluk. Ajaran ini disebarkan oleh Ibnu Arabi yang dalam penggalan syairnya ia berkata: "Hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba". (Al Futuhat Al Makiyyah , Ibnu Arabi).
Ajaran ini sangat keterlaluan karena orang yang musyrik atau sangat bodoh
sekalipun akan bisa membedakan dirinya dengan Rabb (Tuhan).
Sebagian kaum sufi mengajarkan zuhud dalam kehidupan, namun dengan cara
meninggalkan sebab-sebab atau usaha dan jihad (berjuang) padahal Allah telah
berfirman, artinya: " Dan carilah pada apa yang telah dianu-gerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." (QS. 28:77)
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi." (QS. 8:60)
Tingkatan ihsan dalam sufi adalah ketika mereka berdzikir (kepada Allah), mereka
membayangkan syaikh mereka bahkan ketika shalat pun demikian, tidak jarang
diantara mereka yang menghadap gambar syaikhnya ketika shalat. Ini
bertentangan dengan makna hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Ihsan adalah beribadah kepada Allah
seolah-olah kita melihatNya.
Dalam tasawuf seseorang tidak boleh beribadah kepada Allah karena takut neraka
dan karena mengharap surga. Padahal Allah memuji para Nabi yang berdoa
kepadaNya karena mengharap surga dan karena takut akan SiksaNya. Firman
Allah, artinya: "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera
dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada
Kami dengan harap dan cemas."(QS. 21:90), yakni mengharap surga dan cemas
akan siksa dan adzab Allah.
Ajaran Sufisme membolehkan mengeraskan suara dalam do'a atau zikir dan
terkadang diiringi alat musik dan disertai tari-tarian sedang Allah telah berfirman,
artinya: "Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS.
7:55)
Sebagian kaum sufi tidak malu-malu menyebut nama khamar, mabuk, wanita dan jatuhcinta dalam syair-syairnya dan terkadang itu dibaca dalam acara-acara yang diadakan di masjid, sambil diiringi tepuk tangan dan teriakan-teriakan. Dalam Al Qur'an dijelaskan bahwa bertepuk tangan merupakan adat orang-orang musyrik
dalam ibadah mereka. Firman Allah, artinya: "Sembahyang mereka di sekitar
Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab
disebabkan kekafiranmu itu." (QS. 8:35)
Sebagian orang Sufi ada yang senang melakukan atraksi-atraksi tertentu, misalnya
menusuk, memukul diri dengan besi lalu ia memanggil ya jaddah (wahai eyang)
sehingga ia tidak sakit atau terluka. Sebagian orang jahil menyangka bahwa ini
adalah karamah padahal tidak lain adalah istidraj (pemberian yang
menjerumuskan).
Orang-orang Sufi meyakini metode kasyf untuk menyingkap perkara-perkara
ghaib. Padahal tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah
sebagaimana Firman Nya, yang artinya: "Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di
langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan
mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (QS. 27:65)
Orang Sufi berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Salam
diciptakan oleh Allah dari NurNya. Kemudian dari Nur Muhammad diciptakan
alam ini. Sedang Al Qur'an menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallaahu
'alaihi wa Salam adalah manusia biasa yag diberi wahyu, dalam artian bahwa
beliau anak turun Nabi Adam yang diciptakan dari tanah dan terlahir melalui
seorang ibu. Firman Allah, artinya: "Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya
seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa
sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa". (QS. 18:110)
Kaum Sufi punya keyakinan bahwa dunia dan seisinya diciptakan karena Nabi
Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Salam padahal Allah telah berfirman bahwa jin
dan manusia diciptakan adalah untuk beribadah, yang artinya: "Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (QS.
51:56)
Ajaran Sufisme juga meyakini bahwa seseorang bisa melihat Allah ketika di
dunia. Sedang Al Qur'an menyangkal semua ini. Sebagaimana kisah Nabi Musa
yang ingin melihat Allah, artinya: " Rabb berfirman: "Kamu sekali-kali tak
sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya
(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabbnya
menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan
Musapun jatuh pingsan. (QS. 7:143)
Diantara orang Sufi ada yang mengaku bisa bertemu Nabi Muhammad
Shallallaahu 'alaihi wa Salam (setelah beliau meninggal) dalam keadaan terjaga
atau sadar penuh. Ini adalah sesuatu kedustaan, karena Al Qur'an menjelaskan
bahwa alam barzah itu terdinding sehingga tidak mungkin orang yang telah
meninggal kembali lagi ke dunia, Firman Allah, artinya: "Dan di hadapan
mereka(yang telah meninggal) ada dinding sampai hari mereka dibangkitan." (QS
23:100)
Sebagian penganut tasawwuf ada yang mengaku bahwa ia mendapat ilmu
langsung dari Allah tanpa melalui Rasul Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Ibnu Arabi
mengatakan: "Dan dikalangan kami ada yang mengambil ilmu langsung dari
Allah, maka ia menjadi pengganti Allah (khali-fatullah)."
Ini adalah ucapan yang batil, karena Al Qur'an menjelaskan bahwa perintah dan
larangan Allah disampikan melalui RasulNya, sebagaimana firman-Nya, yang
artinya: "Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu."
(QS. 5:67)
Kemudian seseorang tidak akan mungkin jadi pengganti Allah, karena Allah tidak
akan bisa lupa atau terlengah dalam mengawasi makhlukNya, justru Allahlah yang
menjadi pengganti dalam menjaga keluarga kita, ketika kita sedang safar
(bepergian) oleh karena itu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam mengajarkan do'a:
"Ya Allah Engkaulah teman dalam safar dan pengganti dalam kelaurga." (HR.
Muslim)
Kaum sufi merayakan maulid dengan berkumpul dan menamakannya Majlis
Shalawat Nabi. Sebagian mereka beri'tiqad bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Salam datang dalam acara tersebut dan bisa menolong mereka.
Kebanyakan orang sufi bersusah payah menyiapkan bekal dan uang, sekedar untuk
menziarahi kubur tertentu dan bertabaruk (mencari berkah) di sana, dan ada pula
yang menyembelih binatang atau thawaf. Ini melanggar larangan Rasul
Shallallaahu 'alaihi wa Salam, dalam sebuah sabdanya, yang artinya: "Tidak boleh
bersusah payah menyiapkan bekal untuk berpergian kecuali ke tiga masjid :
Masjidil Haram, Masjdku ini (Nabawi), dan Masjidil Aqsha." (Muttafaq 'Alaih).
Yang dimaksud bepergian dalam hadits di atas adalah dalam rangka ibadah atau
mendatangi tempat-tempat yang dianggap mulia.
Kaum Sufi sangat fanatik dengan perkataan syaiknya (gurunya), walaupun
terkadang ucapan itu tidak sesuai dengan sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Salam. Firman Allah, artinya: " Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah." (QS. 49:1)
Kaum sufi banyak menggunakan Thalasim (rajah), huruf-huruf, dan angka-angka
dalam memilih (baca: meramal), juga ada yang menggunakan jimat dan
pengasihan. Ini termasuk perbuatan Arraf (tukang ramal) yang berbuat kesyirikan.
Kaum sufi senang membikin-bikin shalawat yang isinya terkadang mengandung
kemusyrikan dan jarang menggunakan shalawat yang telah diajarkan oleh
Rasulullah.

bismilah hirihmanirohim